Love Isn’t That Easy [Chapter 1]

[SATU]

Dentuman musik ini nyaris mengiris-ngiris gendang telingaku.

Jane mengerenyitkan wajahnya, berusaha menormalkan semua hal yang saat ini dirasanya begitu tidak nyaman–musik yang kerasnya membuat gila, riuh penat dan orang-orang teler yang berlalu lalang entah mencari apa. Sebagian dari mereka meliuk-liukkan tubuhnya dilantai dansa, merasa hidup mereka begitu menyenangkan ketika kaki mereka berpijak dan tubuh mereka merileks. Lampu sorot multi warna bergerak-gerak diantara kegelapan, dan beberapa orang berdasi membawa nampan perak dengan gelas-gelas tinggi diatasnya berkeliaran diantara semuanya. Oh ya, tidak lupa. Wanita dengan pakaian mini yang bagian tertutupnya tidak bisa dideskripsikan juga bergelimpangan disini. Jika bukan wanita konglomerat yang desperate, mungkin pelacur kelas dua.

Bukan sesuatu yang baru bagi Jane, meskipun ia selalu memikirkan rumahnya yang menjengkelkan itu jauh lebih baik dari tempat ini. Setidaknya tidak ada pelacur di rumahku, batinnya.

Mata berwarna wiski tuanya berkeliling waspada, mencari-cari sesuatu.

“Jane!”

Kegelapan yang brengsek ini membuatnya harus memutar badan sekali lagi untuk mencari-cari sumber suara yang didengarnya samar-samar diantara riuh musik.

“Jane!”

Disana. Selang tiga meja dari lantai dansa, ia melihat satu tangan melambai padanya memberi isyarat. Ketika berjalan dengan susah payah, mengenyahkan beberapa orang mabuk yang menghalangi jalan, Jane menyipitkan matanya lagi untuk memastikan tujuannya benar. Dalam meja bundar itu ada enam orang. Empat pria dan dua wanita. Empat orang pria itu adalah sosok yang dikenalnya, dan dua lainnya mungkin pelacur kelas satu yang disewa playboy kawakan New York–Spencer Mc.Yard. Terlihat bagaimana dua wanita itu duduk di kanan kiri Spencer, menampilkan kesan arogan dan murahan. Spencer sendiri merupakan pengusaha kelas satu berwajah flamboyan dan menggoda. Dan bajingan, umpat Jane ketika melihat pria itu mengerling padanya.

Satu orang dari mereka, tepat disisi lain wanita ‘milik’ Spencer, duduk seorang pria berwajah sangat feminim–namun kompeten untuk mengikuti kontes ketampanan– tengah melambaikan tangannya bersemangat, sementara tangan lainnya yang memegang gelas wine juga terangkat untuk menawarkan minuman berwarna kuning busuk itu pada Jane yang baru saja tiba.

“Mungkin benar bahwa berdandan adalah satu ritual yang tidak mungkin lepas dari kata terlambat.” kata pria bernama Vincent itu tanpa basa-basi. Ia juga tidak bisa memungkiri bahwa keterlambatan Jane dapat dibayar oleh kecantikannya malam ini.

Satu tangan lain terulur ketika Jane mencapai meja, menariknya untuk duduk tepat di pangkuan sang pemilik tangan. Jane dengan refleks mengalungkan tangannya pada leher pria itu, lalu kening mereka bersatu dan Jane mengecup bibirnya dalam hitungan detik.

“Kau lama sekali.”

Jane tersenyum kaku, merasakan tangan pria itu bergerak menuju pinggangnya dan memeluknya lebih jauh.

“Kau mau kuberitahu sesuatu, Aiden?”

Pria bernama Aiden itu mengerenyit ketika Jane menghindari sentuhannya. Jane lebih memilih untuk berbalik memunggunginya lalu mengambil segelas minuman yang ada di meja, meneguknya hingga tetes terakhir. Aiden memeluknya dari belakang, sebagai respon untuk mendengarkan apa yang akan gadis itu sampaikan.

“Ayahku tiba-tiba saja pulang. Meg snewen dan berhasil menahanku dirumah cukup lama.”

Pembicaraan tentang keluarga memang terlalu sensitif disini, dan Aiden tahu itu. Tapi hal ini cukup menarik untuk dijadikan pembicaraan penuh makian bagi mereka semua.

“Lalu bagaimana kau bisa keluar?” tanya Aiden sembari menumpangkan dagunya di bahu Jane yang terbalut gaun sequin mahal.

Jane nampak tidak begitu serius menceritakan semuanya. Ada hal lain yang menjadi prioritas baginya untuk berada disini. Bukan Aiden–kekasihnya, bukan juga untuk kesenangan bersama ketiga pria tampan sosialita Manhanttan lainnya. Tetapi karena seseorang yang duduk tepat disamping Aiden–masih bagian dari keempat pria tampan itu– yang wajahnya menyiratkan banyak ketidak pedulian, tanpa minat. Pria itu tidak memedulikan kehadirannya sama sekali, seolah gadis itu hanya semut kecil yang lewat dibelakang sepatunya.

Saat menyadari pria itu benar-benar tidak peduli padanya, Jane menjernihkan pikiran dengan kepala sedikit berputar akibat minuman yang diteguknya dalam satu hentakan tadi. Ia berhasil tersenyum sinting saat mengingat bagaimana caranya ia keluar rumah. Cukup aneh, dan menggelikan.

“Untuk pertama kalinya sejak aku dilahirkan, Nate bersedia kuajak berkomplot. Kebetulan ia juga ingin pergi.”

Spencer yang sedari tadi sibuk dengan wanita-wanita disampingnya itu berubah tertarik, lalu mencondongkan tubuhnya dan menatap Jane penasaran. “Kau dan adikmu berkomplot?”

Pria itu tertawa sejadi-jadinya, menampilkan gusi sehat merah muda khas yang terlihat begitu menyebalkan, diikuti oleh tawa Vincent dan Aiden yang membahana. Jane bisa melihat hanya ada satu orang yang tidak tertawa mendengar ceritanya hari ini. Pria disampingnya. Dia malah sibuk sendiri dengan wine-nya tanpa mau repot-repot mendengarkan.

“Mungkin ramalan tentang kiamat itu benar.” ujar Spencer masih dengan tawa lebarnya.

Semua orang disana tahu apa yang sedang mereka tertawakan–tentu saja.

Hubungan Jane yang mengerikan dengan saudara kandungnya sendiri–jika Nate memang benar-benar saudara kandungnya. Pertama, Mereka tak pernah berbicara dengan nada yang biasa, selalu saja ada emosi yang meletup-letup ketika mereka berhadapan satu sama lain. Kedua, anak berusia sembilan belas tahun itu juga tak pernah menghormati Jane. Ketiga, mereka berdua lebih sering berpikir bahwa salah satu dari mereka adalah anak adopsi. Mungkin satu-satunya hal yang menyebabkan mereka dilabel dengan nama  ‘saudara kadung’ adalah karena mereka sama-sama keras kepala.

“Adikmu terlihat begitu menyenangkan.” bisik Aiden dengan nada sok menceramahi. Jane mendorong kepalanya dengan telunjuk, isyarat bahwa pikiran pria itu benar-benar idiot.

“Bunuh aku saja kalau begitu, Kennard.”

Aiden, Vincent dan Spencer tertawa renyah, sementara Jane merasakan aura dingin menjalar di sampingnya. Sama sekali tak ada suara dari pria itu, setelah pembicaraan tadi pagi.

“Sampai kapan Mr. Smith akan ada dirumah?” tanya Aiden sembari menyalakan rokok. Jane menyingkir dari pangkuannya, hendak pergi sedikit lebih jauh dari pria itu. Bagaimanapun terbiasanya, ia tetap tidak pernah menolerir asap rokok. Asap itu sangat mengganggu, menurutnya.

“Kau pikir aku sekretarisnya? Tanya saja sendiri.” ujarnya sambil mendudukkan diri disamping Aiden, disampingnya.

Pria itu masih sibuk menyesap wine, mengedarkan pandangan ke lantai dansa–yang lebih tepatnya ke arah manapun dimana ia tak bisa melihat Jane. Ia tampak sedikit terkesiap ketika Jane duduk disampingnya, memerhatikannya dengan gamblang.

Biasanya ia tidak begitu peduli dengan situasi seperti ini, dan ia juga mungkin terlalu terbiasa melihat kedekatanku dan Aiden. Tapi kali ini, ia diam. Dingin. Mengerikan.

“Ada yang salah dengan teman kalian yang satu ini?” kata Jane seraya menunjuk Marcus dengan jempolnya. “Apakah ia sedang patah hati?”

Marcus–itulah namanya. Pria itu menatap Jane kesal lalu mengitarkan bola matanya tak peduli, sementara wajah ketiga orang lainnya berubah nakal, siap menggoda.

“Hei, kau patah hati? Aku belum mencium keberadaan wanita manapun dan kau tahu-tahu sudah patah hati?” seru Vincent semangat. Ia menggoyangkan telunjuknya berisyarat ‘tidak mungkin’ seorang Marcus Jo patah hati karena seorang wanita karena seingatnya, pria kaya yang tengil itu tidak pernah dekat dengan wanita manapun.

Sisanya tertawa, membayangkan bagaimana jika Marcus benar-benar patah hati. Mungkin dari sekian banyak yang tertawa, tawa hambar hanya keluar dari mulut Jane. Hanya ia yang tahu bahwa Marcus benar-benar sedang ‘patah hati’.

“Aku akan mencari Candice.” ujar Jane sambil bangkit. Candice, seorang desainer independen muda yang dikejar-kejar wartawan lokal karena kehidupan pribadinya– hubungan tak berstatus dengan Vincent Angelini. Yah, semacam hubungan tak sehat, atau mungkin dengan bahasa lebih roman bisa dijelaskan dengan kalimat : dua orang yang saling mencintai namun tidak ditakdirkan untuk bersama. Keduanya sama-sama enggan berkomitmen dan merasa tidak terlalu diuntungkan oleh semacam ikatan-ikatan yang terlalu jelas–yang sebenarnya Jane tahu bahwa omong kosong itu hanya ditentukan secara sepihak oleh Candice, bukan Vincent.. Dan selain karena mencari Candice, sepertinya juga Marcus mulai tak betah duduk disamping Jane.

“Kau mau aku menyusul?” goda Aiden sambil mengerling, sedikit menjijikan. Jane sama sekali tidak berniat menjawabnya, tentu saja ia tahu itu adalah sebuah jawaban tegas yang artinya ‘tidak’.

***

Jane bercermin sekali lagi, memastikan penampilannya tidak buruk dihadapan Aiden–dan dihadapan Marcus. Ia mengeluarkan lipbalm dari tas Louis Vuitton abu-abunya, mewarnai bibirnya dengan pewarna mengilat itu dengan gerakan hati-hati. Setelah dirasa cukup, ia mengeluarkan sikat rambut dari tempat yang sama lalu merapikan anak rambutnya yang sedikit berantakan karena ‘ulah’ Aiden tadi, kemudian memutuskan untuk melepas ikatan kucir kudanya dan membiarkan rambut hitam legam itu terurai melewati bahu.

            Cukup, pikirnya–jika ia tidak ingin berakhir dengan penampilan seperti pelacur yang bergelimpangan disini.

Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling toilet, bisa melihat bahwa semua bilik yang ada dibiarkan dengan pintu terbuka–yang artinya tak ada siapapun didalam. Tidak ada Candice disini.

Jane melangkah menuju pintu, merasakan dentuman musik mulai mengeras lagi. Baru tiga langkah ia maju, tangannya ditarik paksa menuju arah yang berlawanan. Tangan itu…ya. Tangan besar lagi menenangkan yang hanya dimiliki Marcus. Pria itu dengan tergesa membawanya kearah luar, ke pintu samping pub yang mengarah ke pelataran parkir belakang. Tepat disamping Audi hitam milik Marcus yang terparkir rapi, berjajar dengan mobil mewah lain yang diyakininya milik Vincent, Spencer, dan Aiden.

Marcus menghempaskan tangan gadis itu kasar, menghimpitnya telak hingga gadis itu terkunci diantara kap mesin mobil dan dirinya sendiri.

Aku tahu akan begini, pikir Jane. Ia tahu, semahir apapun Marcus menyembunyikan perasaannya, pada akhirnya pria itu akan meledak juga. Seperti saat ini. Mata pria itu mengilat marah, menatapnya depresi seakan ingin memuntahkan kekesalan yang teronggok di kerongkongannya. Jane tidak takut, hanya… merasa terlalu bersalah.

“Sialan kau!” umpatnya kesal, lalu lebih memilih untuk menendang bemper mobilnya sendiri demi melampiaskan amarahnya. Suara berdebum sedikit membuat Jane terkesiap, ia dengan refleks menutup matanya. Pria itu mengusap wajahnya kasar, memandang Jane tajam.

“Aku sudah mempertingatkanmu berulang kali.” ujar Jane pelan, namun masih bisa didengar jelas oleh Marcus karena tempat itu sangat sepi. Marcus mengerti apa yang dimaksud ‘memperingatkan’. Jane sudah acap kali memintanya untuk pergi, meninggalkannya dan mencari wanita lain yang memberikan hati yang utuh padanya. Tapi jelas ia tidak bisa. Wanita dihadapannya ini terlalu memikat. Daya tariknya terlalu kuat sampai ia tak mampu melihat ‘hal lain’ diluar sana.

“Terserah apa katamu. Kau peduli atau tidak, aku akan membunuh Aiden secepatnya.”

Tanpa diduga-duga, Jane malah terkekeh, menertawakan apa yang baru saja Marcus katakan.

“Aku tidak peduli.” gadis itu berdiri tegak, membuat wajahnya dan wajah Marcus hanya berjarak lima sentimeter saja karena ia menggunakan high-heels yang cukup tinggi untuk menyamai tinggi Marcus–meskipun pria itu masih saja lebih tinggi darinya.

“Tapi kau tentu saja peduli, Marcus Jo. Aiden bukanlah orang yang baru satu hari kau kenal, maksudku… kalian menyebut itu dengan ‘persahabatan sehidup semati’, kan? Akan lebih masuk akal jika kau membunuhku saja.”

“Masuk akal untuk otak tololmu itu.” tukas Marcus cepat. Ia mendudukkan diri di atas kap mobil, memandang Jane dari belakang. Memerhatikan bagaimana keindahan rambut gadis itu membuatnya terpikat tanpa ampun. Untuk yang kesekian kalinya, ia menyesal telah mengenal dan tahu bahwa gadis seperti Jane benar-benar hidup di dunia ini.

“Kapan kau akan belajar berpikir realistis, Jennifer? Aku membutuhkanmu, cukup menggilai sampai mungkin aku tidak membutuhkan hal lain. Termasuk persahabatan–atau apapun namanya.”

“Terdengar tidak realistis ditelingaku.”

Dalam sekali hentak, Marcus menarik tangan gadis itu hingga berhadapan dengannya.

“Kau satu-satunya orang yang bisa membuat aku dan Aiden gila bersamaan! Bagian mana yang tak kau sebut realistis?”

Mereka bertatapan cukup lama, bertukar pandangan jengah satu sama lain. Jane kemudian menghempaskan tangannya yang dicekal Marcus ketika ia mendengar ponselnya berdering, sementara Marcus membuang pandangannya kearah lain, lagi-lagi ke tempat yang ia tak bisa melihat Jane didalamnya.

“Ada sedikit masalah disini. Aku akan kesana sebentar lagi, oke?” terang gadis itu pada seseorang dibalik ponsel.

“Marcus? Ah…aku tadi melihatnya. Sepertinya dalam perjalanan kembali kesana. Tak lama lagi. Tadi aku bertemu dengannya di lorong barat.”

Orang itu mencariku, tentu saja, batin Marcus ketika mendengar namanya disebut-sebut.

“Oke. Bye.

Jane sibuk memasukan ponsel kedalam tasnya lagi, manakala Marcus memerhatikan gadis itu dengan seksama.

“Masih banyak waktu untuk membicarakan hal ini.”

Saat gadis itu hendak pergi, ia teringat sesuatu. Mungkin hal yang cukup penting untuk Marcus, meskipun ia sedikit tak yakin.

“Kau bisa bertandang malam ini, jika kau masih keras kepala seperti biasanya.”

[DUA]

 

Tunggulah sampai abad berikutnya dan kau akan menyesal sampai ke urat nadimu karena kau mengharapkannya datang, Jennifer.

Jane menghela napasnya lambat-lambat, sedikit merilekskan saluran pernapasannya. Ia merutuki hasil pemikirannya sendiri–yang lebih tepat jika dikatakan sebagai ‘harapannya’. Hei, tentu saja ia tidak pernah berbohong soal hal yang satu ini : berharap Marcus benar-benar datang ke rumahnya dan menghabiskan satu malam saja seperti biasanya, sebelum pria itu akan memendam rasa cemburunya esok hari, saat Jane dan Aiden kembali menebar kemesraan.

02.03

Satu jam yang lalu ia sampai kerumah dengan selamat. Bibinya–Meg, dan ayahnya sudah tidur. Lagipula, dua orang itu samasekali tak tahu jika ia dan adik laki-lakinya bersekongkol untuk kabur melewati pintu belakang dan menerobos sebuah lubang kecil di pagar taman belakang. Intinya, ia tak perlu menulikan telinga untuk sekedar mendengarkan ‘sambutan hangat’ dari siapapun malam ini.

Maksud ‘sambutan hangat’ itu bisa diartikan sebagai amukan, jika kau belum tahu.

Adik perempuan ayahnya itu sudah mengurus Jane sejak ibunya meninggal sepuluh tahun yang lalu, juga mengurus adiknya. Sebenarnya, wanita berusia tiga puluh empat tahun itu sama sekali tidak buruk. Ia peduli, sangat peduli pada dua keponakannya yang nakal–Jane dan Nate. Tapi karena Jane dan Nate terlanjur kesal pada ayah mereka yang tak pernah pulang kerumah dengan alasan pekerjaan, mereka tumbuh menjadi sosok yang sulit diatur dan liar. Keduanya berbicara tanpa berpikir, keras kepala, dan pemberontak. Meg sampai tak pernah berhenti meminta maaf pada kakak laki-lakinya–ayah Jane dan Nate–karena ia tak dapat membesarkan dua anak itu dengan baik.

Meg adalah seorang wanita yang cantik. Namun karena kesibukannya mengurus Jane dan Nate, Meg sampai saat ini belum menikah–bahkan kekasihpun tidak ada. Ini membuat Jane kasihan padanya, meskipun masih dalam kadar nol koma nol sekian persen. Mengapa sekecil itu? Karena Meg adalah orang paling cerewet di dunia, maka menurut Jane, pantas saja jika tak ada pria yang mau mendekatinya.

Dan tentang ayah mereka–seorang diplomat kenamaan, terbaik yang pernah dimiliki New York. Tapi baik Jane maupun Nate tidak pernah merasa bangga sedikitpun pada prestasi ayah mereka.

Smith Falkner, adalah sosok ayah yang…sulit sekali dideskripsikan. Ia berkeliling dunia untuk dua hal. Pertama karirnya sebagai seorang diplomat, kedua adalah untuk memberi makan kedua anaknya. Ia berpikir bahwa kedua anaknya akan bahagia jika ia dapat memenuhi segala kebutuhan mereka–tapi nyatanya tidak. Sampai saat ini ia tak menyadari bahwa satu-satunya hal yang anak-anaknya butuhkan adalah dirinya sendiri, bukan uang atau apapun. Tapi terlalu terlambat, pikir Jane. Sejauh apapun ayahnya berusaha berubah, hal itu terlalu terlambat mengubah keadaan yang terlanjur bobrok saat ini.

“Jane!”

Jane terkesiap dari lamunannya. Nate. Jane tahu anak itu pasti baru saja pulang. Ia melompat dari ranjangnya, bergegas membuka tirai balkon kamarnya–lalu sedetik kemudian terkejut ketika melihat apa yang ada dibalik pintu kacanya. Nate, dan…Marcus.

Dengan ragu, Jane menggeser pintu itu hingga membuka, membuat semilir angin malam musim semi masuk tanpa permisi kekamarnya. Nate juga melakukan hal yang sama, masuk kedalam kamar Jane, melewatinya begitu saja dan sudah dipastikan akan pergi kekamarnya sendiri.

“Adikmu lumayan juga.” ucap Marcus santai, dengan lagak yang terlihat begitu menyebalkan dimata Jane. Pria itu bersandar pada pembatas balkon, melipat tangannya didepan dada. Pakaiannya terlihat lebih santai dibandingkan dengan tadi saat ia bertemu dengannya di pub. Jika tadi Marcus mengenakan stelan kaus polo dengan balutan jaket kulit hitam, kini ia hanya mengenakan kaus katun berlengan panjang.

Ada sepersekian rasa lega yang menyelinap masuk kedadanya. Tahu bahwa pria itu datang, masih saja keras kepala seperti biasanya. Bertahan meskipun Jane jelas-jelas tak bisa memberi kejelasan apapun padanya.

Marcus melenggang masuk, meninggalkan Jane yang masih terpaku tepat di mulut pintu. “Jika di sisa malam ini kau masih mau berdebat denganku soal Aiden, aku tak akan segan-segan membunuh kalian berdua.”

[TIGA]

Berbeda seratus delapan puluh derajat dengan malam, kehidupan Marcus di siang hari adalah bukan sesuatu yang bisa dianggap menyenangkan. Seorang pewaris perusahaan ekspor swasta bonafit yang pemiliknya sudah cukup tua untuk memimpin perusahaan, dan Marcus sudah dipersiapkan secara matang untuk duduk di kursi direktur menggantikannya. Ciptaan Tuhan yang satu ini sangat pintar, ambisius, dan berkelas. Dengan ketiga modal itu, Marcus diterima dengan sukarela di perusahaan ayahnya, meluluhlantahkan kerja keras investor rakus yang sudah mengambil ancang-ancang menunggu kematian Jo senior hingga mereka dapat meraih keuntungan besar-besaran. Tapi Marcus, dibalik kehidupan malamnya yang sangat ‘remaja’ itu, ia adalah pribadi yang bertanggungjawab pada beban yang berada dipundaknya, termasuk harta ayahnya yang mencapai kelas dunia itu.

Memuakkan, memang. Terkadang ia ingin sekali hidup seperti pria berusia duapuluh lima lainnya, sedang bermalas-malasan duduk mendengarkan dosen di bangku kuliah. Berhubung ia sudah lulus dua tahun yang lalu dari Oxford, saat ini bayangan itu hanya menjadi mimpinya. Lagipula, ketiga temannya yang lain–Aiden, Vincent, dan Spencer– tidak jauh berbeda dengannya. Ketiga orang itu juga lulus lebih cepat di bangku kuliah, lalu pada akhirnya duduk manis di bangku direktur peninggalan ayah mereka. Perbedaan hanya terletak di bagaimana cara mereka menikmati hidup. Saat Vincent yang paling tua itu begitu ceria sepanjang hari–bahkan sepanjang tahun meskipun pekerjaannya menumpuk, Spencer Mc.Yard dengan santainya meninggalkan rapat direksi demi menghadiri sebuah ekshibisi mobil-mobil mewah di Italia. Aiden yang tak terlalu memikirkan urusan pekerjaan–namun masih bisa tetap sukses, bahkan banyak anggapan bahwa dengan melihat cara bekerja pria itu, masih untung perusahaan yang dipimpinnya masih bisa berdiri–tidak sukses sekalipun. Dan Marcus, adalah satu-satunya orang yang paling kaku diantara keempatnya. Kasarnya, ia akan mati saat bekerja. Bekerja sepanjang siang demi menghindari lembur, adalah usahanya yang cukup lumayan membuat perusahaan ayahnya itu memiliki status yang tidak biasa-biasa saja.

Jennifer Falkner tentu saja menyadari hal itu.

Sebagai marketing supervisor di Jo Exports, Jane tahu seperti apa pria yang sedang menyantap makan siang dihadapannya ini. Menawan, kaya raya, dan mencintainya. Posisinya cukup menggiurkan untuk ditendang oleh seluruh wanita didunia.

“Aku akan ke Adelaide sore nanti.” ucap pria itu, kemudian menyendok Fetuccini di piringnya. “Kau mau ikut?”

Mudah–sangat mudah, bagi seorang Marcus Jo. Ia bisa saja berdalil bahwa ia memboyong Jane pergi dalam rangka kunjungan pekerjaan, dan ia membutuhkan orang marketingnya disana. Cukup klise untuk menipu Aiden, tapi cukup jitu dan lagi tingkat keberhasilannya mencapai sembilan puluh sembilan persen.

“Kau melupakan satu agenda penting, Jo.”

“Aku tahu.” jawabnya cepat. “Aku akan menelepon tepat jam dua belas malam.”

Jane mengangguk mengerti, memikirkan bagaimana pesta ulangtahun Candice akan berjalan nanti malam–tanpa Marcus. Mungkin menurut orang lain hal itu tidak terlalu penting, tapi menurutnya, kehadiran pria itu lebih berdampak ketimbang kehadiran kue ulang tahun Candice.

“Mr. Smith masih ada dirumah?” tanya Marcus ketika mengingat suasana sepi di rumah Jane pagi tadi, yang biasanya ramai karena teriakan Meg untuk membangunkan Jane dan Nate. Pikirnya, mungkin Meg sedang sibuk menyiapkan sarapan untuk tuan Smith. Meskipun nyaris sepagian ia ada di kamar Jane, tentu saja ia tidak tahu siapa saja yang ada dirumah gadis itu, berhubung ia pergi dari sana tidak menggunakan akses utama ke ruang tamu atau pintu rumah yang lazim, melainkan dengan loncatan indah dari balkon kamar gadisnya.

“Mungkin. Jika ‘ya’, bisa saja adik kecilku akan meninggalkan rumah dan lebih memilih untuk masuk kuliah ketimbang berada dirumah seharian.”

“Ia mengingatkanku pada Spencer kecil. Mirip sekali.”

Jane mengerenyitkan dahinya ketika mendengar perbandingan itu. Sedikit tak masuk akal, menurutnya.

“Adikku bukan playboy kelas teri macam temanmu itu.” tukasnya tajam. Ia merasa aneh pada apa yang baru saja diucapkannya. Rasanya ia mau mencekik lehernya sendiri ketika menyadari bahwa secara tidak langsung ia sedang membela imej adiknya yang keparat itu. “Tentu saja Spencer empat juta kali lipat lebih pintar dari adikku. Otaknya lebih kecil dari udang, kau tahu?”

“Anak yang otaknya lebih kecil dari udang itu membantumu keluar rumah tadi malam, nona.” papar Marcus dengan nada jahil. Pada saat itu juga, Jane memutuskan untuk segera menyudahi pembicaraan tentang adiknya, jika ia tidak mau berdebat karena hal remeh temeh dengan atasannya ini.

Berdebat memang bukanlah pilihan yang tepat jika menyangkut Marcus. Pada akhirnya pria itu akan mengancam dan bertindak semena-mena, seperti tadi pagi saat ia didoktrin untuk tidak membicarakan Aiden ditengah kebersamaan mereka.

Tidak. Kebersamaan adalah bukan hal yang bisa disebut seks bagi mereka. Tidak ada hal bernama seks pernah terjadi diantara mereka, dan Jane pun tidak pernah melakukannya bersama Aiden. Sialnya, kenyataan itu membuat taraf rasa bersalahnya pada dua pria itu semakin membumbung, mengingat kedua pria itu benar-benar berniat menjaganya, tidak menyentuhnya sama sekali. Yang terjadi hanya sekedar perpagutan kecil di bibir, meskipun biasanya Marcus melakukannya lebih kasar karena emosi yang dilampiaskannya lebih komplikatif daripada Aiden.

“Kau yakin tidak mau ikut? Candice akan sangat memakluminya.”

Jane menggeleng mantap, mengambil segelas air putih dari pinggir piringnya lalu meneguk air itu cepat. Agenda makan siang dengan kekasih gelap–direktur, maksudnya– berakhir disini. Ia punya janji dengan Aiden setengah jam lagi untuk bermain bowling, tentu saja ia sama sekali tidak membicarakan hal ini pada Marcus–mengingat pria itu tidak ingin nama Aiden disebut-sebut setelah perdebatan kecil mereka tadi malam. Dan Jane, sudah mulai hati-hati dalam bertindak. Ia tahu Marcus tidak lagi sesabar dulu. Kali ini Marcus lebih ekspresif, membuat Jane sedikit waswas kalau-kalau pria itu memang benar-benar mahir membunuh salah satu dari mereka.

“Aku pergi. Sampai jumpa. Kapan kau pulang?” tanya Jane lalu mengitari meja, mengecup kedua pipi pria itu bergantian.

Marcus memerhatikan gadis itu menenteng tasnya dan melepas blazernya, meninggalkan kemeja kerja yang santai, tanda bahwa gadis itu tentu saja akan mangkir kerja. “Lusa, atau besoknya. Kau meninggalkan kantor?”

“Aku sudah clearing untuk minggu ini, direktur. Maaf saja.”

Terakhir, Jane mengecup bibir pria itu secepat kilat, mengecap sedikit rasa mozarella di bibirnya. “Jangan marah, oke? Pekerjaanku sudah selesai dan kau juga akan pergi sore ini. Tidak ada alasan untuk menolak kencan dari siapapun.”

Siapapun, gerutu Marcus dalam batinnya. Ia tahu tak ada ‘siapapun’ selain dirinya dan pria itu.

“Aku akan pulang secepatnya. Pastikan aku tidak melihatmu dengan pria itu saat aku pulang nanti.”

“Ya, kuusahakan.” sahut Jane sekenanya. Gadis itu pergi, melambaikan tangan lalu menghilang dari penglihatan Marcus.

Dan Marcus merutuk sekali lagi. Ia adalah tipe pria yang tidak mudah jatuh cinta, pada gadis secantik dan semenggoda apapun. Tapi saat ia diberi kesempatan untuk jatuh cinta, justru ia melakukannya pada objek yang salah.

[EMPAT]

“Lumayan. Kemampuanmu tak seburuk setahun yang lalu.” ujar Aiden seraya terkekeh, memainkan bola baja ditangannya ketika ia melihat tiga per empat pin di ujung sirkuit bowling tumbang karena hentakan bola yang dilontarkan Jane.

Jane menatap pria itu mehrong, meninju lengannya pelan. “Jangan berlagak! Kau hanya mengajariku sebulan sekali!”

Bowling bukanlah permainan mudah, bagi Jane. Ia harus belajar dari nol ketika Aiden sudah menyandang gelar pro, dan menumbangkan setengah dari sepuluh pin–yang membentuk segitiga saja sudah merupakan kemajuan besar setahun terakhir. Tapi tetap saja ia kesal jika Aiden sudah sok jago dihadapannya–meskipun pria itu memang benar-benar lihai dalam permainan ini.

“Kau sudah mengikuti jejak playboy kelas teri itu ya sekarang? Sepertinya pekerjaanmu di kantor tidak begitu penting.”

Jane menghindar dari arena, lalu duduk tak jauh dari sana. Sebuah bangku yang mengelilingi meja bundar kecil khas yang selalu ada di tepi arena bowling. Aiden menggelindingkan satu bola ditangannya dan tersenyum penuh kemenangan ketika hanya tersisa satu pin diujung sirkuitnya, lalu berbalik menghampiri Jane sambil menyingsingkan lengan kemejanya. “Tak lebih penting dari kencan pribadi, tentu saja.”

“Kau mengajakku kencan seminggu tiga kali, tuan.”

“Setidaknya aku tidak meninggalkan pekerjaanku setiap hari, kan?” Aiden duduk, menyeruput kaleng root beer yang isinya tinggal setengah. “Dan sejak kapan Marcus memberimu toleransi waktu bekerja? Ini kali pertama aku mengajakmu kencan di jam kerja dan kau tak mendebat sama sekali.”

“Pilihan waktu yang sama sekali tidak buruk. Kebetulan sekali pria kaya raya itu berencana akan pergi ke Adelaide nanti sore. Dan lagi, pekerjaanku sudah selesai untuk minggu ini.”

Aiden mengangguk, memerhatikan beberapa titik pusat wajah gadis dihadapannya. Nama gadis itu memang New York sekali, tapi wajahnya adalah sosok gambaran wanita Irlandia paling sempurna yang pernah ada. Kelopak sempitnya melingkupi iris kecokelatan mata, hidung mancungnya yang nyaris bengkok, rambut hitam legam yang ikal di bagian ujung, kulit putih kekuningan–perpaduan ras yang sangat sempurna, meskipun wajah Amerikanya masih mendominasi. Ibunya pasti orang Irlandia yang kelewat cantik, pikir Aiden.

“Kenapa kau melihatku begitu?” tanya Jane yang merasa risih dengan mata Aiden yang seperti baru saja melihat emas mencair. Pria itu terkekeh, wajahnya merona sedikit–membuat Jane nyaris saja mencubit hidungnya.

“Kau cantik sekali,” ucap Aiden sambil tersenyum, senyum tulus yang selalu menenangkan. Bukan hal baru bagi Jane, mengingat Aiden adalah tipe pria yang kosakata gombalannya tak bisa dihitung dalam sehari semalam.

“Jangan harap aku akan menyebutmu tampan.” tukas Jane sambil menunjuk-nunjuk sedotan lychee smoothies-nya ke wajah Aiden. “Alexander Ludwig beratus kali lipat lebih tampan dari pria tertampan manapun yang pernah kulihat.”

Tahu persis soal kegilaan pacarnya itu pada Alexander Ludwig, Aiden hanya bisa tertawa pelan. Tak ada hal serius dalam pembicaraan mereka kali ini, hanya lelucon hambar yang tidak ada lucu-lucunya sama sekali. Gadis itu berbohong, tentu saja. Dari apa yang didengarnya, Jennifer Falkner adalah sosok wanita broken home yang berkelas, memiliki selera tinggi dan perfeksionis. Jadi menurutnya, tampan adalah hal yang tak mungkin dilewatkan Jane ketika memilih pacar, dan Aiden adalah pacarnya saat ini. Lagipula sudah terlalu jelas, bahwa semua wanita tidak pernah meragukan ke-superioran gen yang dimiliki ia dan ketiga temannya yang lain.

“Memangnya aku peduli pada pria setengah albino itu?” Aiden mendengus, membiarkan wajah Jane berkerut kesal.

“Kalian hidup terlalu sempurna. Sesekali kalian harus tahu kalau diluar sana masih banyak yang lebih sempurna.” papar Jane dengan nada menceramahi. Sudah pasti Aiden mengerti arti ‘kalian’ yang ditujukan Jane. Ia, dan ketiga sahabatnya. Sosialita kelas atas kepunyaan Manhattan.

“Hei, cantik. Secara tak langsung kau baru saja bilang bahwa pacarmu yang kalah tampan dari Alexander Ludwig itu sangat sempurna.”

Akhirnya Jane harus mengalah. Ia memutar bola matanya tak berselera. “Yah, bisa dibilang begitu.”

“Aku tersanjung.” goda Aiden nakal dan mencium pipi gadis itu cepat. Ada kepuasan batin tersendiri yang dirasakan Aiden saat ini, entah karena sanjungan gadis itu atau karena ia berhasil membuat wajah gadis itu merona karena kesal.

“Kuhina pun kau akan merasa tetap tersanjung.” cibir Jane lalu membalas kecupan pipi pria itu di bibir. “Ayo main lagi. Sepertinya olahraga baik sebelum kita bergadang semalam suntuk.”

Aiden mengejar Jane yang sudah lebih dulu berinisiatif mengambil bola, lalu melakukan hal yang sama. “Kau yakin Candice dan Vincent akan membiarkan kita berpesta semalam suntuk? Apa mereka tidak punya kegiatan lain yang akan mereka lakukan berdua saja?”

“Kita lihat nanti malam.”

Jane melontarkan bolanya tanpa aba-aba, lalu menjengit senang, nyaris melompat ketika tahu ujung sirkuitnya kosong tak bersisa.

Strike!

[LIMA]

Sosialita lain bernama Candice White kini tengah berpikir keras, memilah-milah botol kehitaman yang berbaris rapi dihadapannya, memerhatikan bentuk luar, label, serta aroma yang menguar dari mulutnya. Ia menghirup botol ketiga dengan seksama, merasakan sebuah ketertarikan luar biasa pada botol yang satu ini.

“Seleramu tidak berkembang sama sekali.”

Candice memejamkan matanya frustasi. Vincent Angelini selalu saja seperti itu. Datang dan pergi seperti hantu gentayangan yang meninggalkan gua berlian di semasa hidupnya.

“Mexican Swing. Pilihan yang terlalu latin untuk penduduk New York sepertimu.”

“Kau pikir apa katamu itu berpengaruh buatku?” tanya Candice retoris, lalu kembali menyesap aroma fermentasi yang masih menguar di tempat yang sama. Seharusnya Candice menelan lagi ucapannya barusan, mengingat pria disampingnya ini adalah pria yang jauh lebih berpengalaman dalam memilih cocktail. Tentu saja, Vincent adalah pemilik pabrik cocktail dan wine terbesar di Amerika Utara. Kapan ia akan mengingatnya?

“Lalu menurut otak konsultan perusahaan cocktail ternama, minuman apa yang bisa dikatakan cocok untuk pestaku nanti malam?”

Vincent tersenyum manis, terlalu manis. Pria itu kemudian menggeser kursinya lebih dekat ke meja, menelusuri satu persatu label botol yang berbaris dihadapannya. Tangannya berhenti di botol ke sebelas. Bentuk botol itu sangat biasa, seperti botol kecap pada umumnya. Gabus penutup botol itu sudah sedikit menguning, tapi hal itu membuat Candice penasaran seperti apa aromanya.

“Tampak sederhana, bukan?” Vincent lagi-lagi tersenyum melihat Candice yang terkesiap karena tebakannya pasti tepat sama dengan apa yang sedang dipikirkan Candice.

“Tapi kau tentu saja yakin aku tak akan memilihkan sesuatu yang sederhana untuk pestamu, nona.”

Candice menarik botol itu mendekat, dengan cepat membuka gabus botol brandy itu lalu mendekatkan hidungnya di mulut botol. Si brengsek pecinta minuman keras ini memang tak terkalahkan soal selera, pikirnya.

Aromanya tidak terlalu menyengat, bahkan lebih lembut dari perkiraannya. Aroma fermentasinya tenggelam oleh aroma kenari alami, pasti kadar alkoholnya juga rendah sekali–mengingat alkohol adalah zat yang akan menimbulkan dominasi bau dalam campurannya. Nyaris sempurna.

Tentu saja masih ada yang lebih sempurna dari ini. Candice mengingat ketika ia menikmati sensasi mengerikan dari Virgin Mary pemberian Vincent enam bulan yang lalu. Kabarnya, Vincent menghabiskan dua juta dolar untuk membeli cocktail buatan Venesia itu. Harganya yang fantastis membuat Candice tahu, bahwa minuman itu adalah minuman terbaik yang pernah disesapnya. Lidahnya gemeteran waktu itu, bahkan jika didramatisir, air matanya nyaris tumpah. Ia seperti meminum berlian cair.

“Pina Colada. Aku tidak perlu menjelaskan kelebihannya padamu. Nanti kau akan mengataiku pamer seperti biasanya.”

“Kau memang begitu.” ujar Candice pendek. Ia kemudian kembali menelusuri aroma botol-botol itu dengan hidungnya, berusaha terlihat sibuk dihadapan Vincent. Pria itu dengan gamblang tengah memerhatikannya, membuatnya risih seketika.

“Berbicara soal pesta…apa aku tak bisa memiliki waktu berdua saja denganmu? Aku punya sedikit kejutan.”

“Minuman seharga jutaan dolar? Lidahku sudah bebal, bodoh.” cibir Candice pada Vincent. Pria itu terkikik, mengambil satu botol lain dan memberikannya pada Candice.

“Lalu aku bisa merayumu dengan apa lagi jika dengan dua juta dolar saja kau masih bebal padaku?”

Candice membuka gabus botol yang diberikan Vincent, menganggukan kepalanya setuju. Aroma yang satu ini cukup unik. Aroma plum yang tajam. “Ini apa?” tanyanya cepat, sedikit banyak berusaha untuk mengalihkan pembicaraan mereka yang sudah menjurus. Jujur saja, ia selalu tidak senang jika menyinggung hal-hal percintaan.

“Shooting star. Asli dari Moscow.”

“Apakah komunis juga memproduksi minuman beralkohol?”

Vincent menggelengkan kepalanya, bukan bermaksud untuk menjawab pertanyaan gadis itu. “Semakin ahli mengganti channel, ya? Kau menjengkelkan sekali.”

Pria itu sangat peka. Ya. Ia bisa membaca pikiran Candice hingga yang terselip diantara lekukan otaknya–termasuk menjauhkan pembicaraan ini pada hal-hal berbau hubungan diantara keduanya.

“Aku hanya bertanya, tuan.”

“Aku juga hanya bertanya, nona.”

Candice turun dari kursi bar, menenteng dua botol brandy ditangannya. Satu botol pilihan pertamanya, yang Vincent sebut dengan Mexican Swing, dan yang satu lagi adalah Pina Colada. Dua saja cukup, pikirnya. “Kesini untuk menjemputku atau membuatku penat?”

Vincent memerhatikan bagaimana Candice bergerak kearah kasir, mengeluarkan uangnya untuk menebus dua botol minuman itu. Ia tersenyum sekali lagi, berniat untuk menggodanya lebih jauh. “Kalau kau penat karena isi otakmu aku semua, bukankah itu bagus?”

[ENAM]

Jangan bayangkan sebuah pesta ala remaja yang diadakan di pub atau di diskotik-diskotik ternama milik Manhattan. Ini adalah pesta resmi, dimana event organizernya ditunjuk sendiri oleh ayah Candice, bankir keturunan Indiana yang wajahnya mirip aktor Jason Bateman itu. Candice sendiri sepertinya tak mau ambil pusing. Ia hanya menuruti apa yang dikatakan kedua orang tuanya dan mengatur tetek bengek pesta seperlunya, seperti memilih warna dekorasi ruangan, menu makanan utama, dan memperhitungkan jumlah undangan yang akan datang. Yang mengejutkan Jane, kali ini Candice yang memutuskan untuk mengenyahkan seluruh media dari pestanya.

“Operasi plastik akhirnya menjadi pelabuhan terakhir untuk mengubah pipi tembammu itu ya?”

Candice menatap Jane dengan wajah mengeksekusi dari pantulan cermin. Ia sadar, pipinya yang tembam itu memang sedikit memalukan. Tapi martabatnya tidak lebih rendah jika harus melakukan permaksasi pada wajahnya.

“Ini riasan tercanggih, bodoh. Aku mendatangkan utusan langsung Dior dari Italia khusus untuk wajahku hari ini.”

Jane menganggukkan kepalanya, setuju dengan apa yang Candice sebut sebagai ‘riasan canggih’. Bahkan menurutnya, Candice luar biasa malam ini. Sebuah gaun Lurex berwarna hijau zamrud hasil rancangannya sendiri membalut tubuh rampingnya, dengan bagian punggung yang terbuka lebar menampilkan kulit putih susunya. Semakin terlihat jelas ketika rambut lurus nan panjangnya dibentuk sedemikian rupa hingga terangkat dan mengekspos leher jenjangnya. Menakjubkan. Goresan hijau senada terlihat di garis matanya yang kecil, pipinya merona merah muda, bibirnya lebih sempurna dari kata sensual. Vincent mungkin akan berpikir berulang kali untuk mempertahankan hubungan tak berstatusnya dengan gadis ini. Dan jangan lupa, wartawan juga akan kehilangan gambar terbaik dari desainer muda berbakat ini.

“Hei, apa aku secantik itu?”

Jane mengangkat jempolnya lalu mengerling. “Perfecto.

***

“Masih berpikir untuk tidak mau menjalin hubungan dengan gadis yang satu itu? Kalau kau tidak mau juga, aku akan melamarnya langsung. Kelihatannya bankir Indiana itu sedang tidak sibuk untuk sekedar menerima lamaran dariku.”

Aiden terkekeh ketika Vincent memutar bola matanya tak peduli pada apa yang baru saja Spencer katakan. Yah, anggaplah tidak peduli meskipun sebenarnya Vincent tetap waspada kalau-kalau tindakan bodohnya menggantungkan status itu benar-benar runtuh hanya karena ke-keparatan sahabatnya.

Meskipun Candice adalah primadona malam ini, tapi Aiden tetap terpukau pada lain hal. Ia memang patut mengakui bahwa temannya yang satu itu terlihat cantik sekali di hari ulang tahunnya, tapi sayangnya, seseorang disamping gadis itu lebih menggoda dimatanya. Seorang gadis dengan tube dress pendek berwarna salem, dan rambutnya terjalin longgar di kanan wajahnya. Sempurna, seperti biasanya.

“Kau tidak sedang memerhatikan gadisku, kan?”

Aiden terkekeh sedikit ketika Vincent memerhatikan arah pandangnya, lalu menyesap minuman berwarna merah scarlett ditangannya. “Sedikit.”

“Baguslah.” desah Vincent dengan pura-pura lega. Padahal ia tahu siapa yang sedang sahabat karibnya itu perhatikan.

“Jadi hanya aku yang tidak punya pasangan malam ini? Oh, sial. Seharusnya aku pergi saja bersama Marcus.” sesal Spencer dramatis. Sebenarnya jika ia mau, ia bisa menemukan seorang gadis untuk dijadikan ‘pasangan’ dalam waktu kurang dari sepuluh menit.

“Kemana anak itu?” tanya Vincent kemudian. Sepertinya hanya ia yang tak tahu kemana perginya Marcus.

“Menggali uang di Adelaide.” jawab Aiden asal kemudian merentangkan tangannya ketika Jane datang. Lagipula Vincent tidak benar-benar mendengarkan jawaban atas pertanyaannya itu, semenjak ia juga sendang sibuk mencium pipi kanan-kiri gadisnya yang sedang berulang tahun.

“Selamat ulang tahun, manis. Kau luar biasa malam ini.”

***

            “Bagaimana pestanya?”

“Tidak buruk, meskipun lebih baik jika kau ada disini, direktur sok sibuk.”

Jane cemberut ketika orang di balik telepon itu justru tertawa–menertawakan, lebih tepatnya.

            “Kau merindukanku, begitu?”

“Yah…sialnya begitu.”

            “Kurang dari dua puluh empat jam dan kau sudah merindukanku. Bukankah itu pertanda baik?”

Pertanda baik, bagi Marcus. Katakanlah begitu. Jane juga tak tahu apa yang salah dalam otaknya sampai ia merindukan pria itu hampir setiap saat, ketika ia bersama Aiden sekalipun. Ia mengelilingkan pandangannya ke seluruh ruangan, mendesah lega ketika mendapati Aiden masih berbicara serius dengan seorang kolega bisnisnya yang juga kolega bisnis ayah Candice. Menurutnya, dunia memang sangat sempit untuk urusan uang. Kolega bergelimpangan dimana-mana, pergi keluar negeri seperti akan menyambangi toilet, uang jutaan dolar seperti recehan yang menumpuk di setiap bank. Rasanya tak masuk akal ia bisa hidup ditengah orang-orang seperti ini.

            “Kau masih disana?”

Jane terkesiap dari lamunannya. “Ya. Aku masih disini.”

            “Punya waktu berapa lama sampai pria itu tidak mengganggu orang yang sedang menelepon kekasihnya?”

“Kau yang mengambil kekasih orang, bodoh.” kekeh Jane pelan. “Sepertinya urusan bisnis yang cukup menjanjikan. Aku tidak pernah melihatnya begitu peduli pada pria-pria kaya yang menawarkan tender itu. Mungkin akan cukup memakan banyak waktu.”

            “Berita baik untukku.” ujar Marcus ketika menyadari rentang waktu yang cukup lama sampai Aiden akan mengganggunya.

Jane berjalan beberapa langkah, menghampiri meja dengan deretan gelas berisi cairan berwarna-warni didalamnya. Ia memindahkan ponsel dari tangan kiri ke tangan kanan, mencari posisi yang lebih nyaman.

“Yeah.” ia menegak isi gelasnya dengan anggun. “Bagaimana pekerjaanmu?”

            “Aku tidak bercanda. Seharusnya kau–orang marketingku benar-benar ada disini. Penawaran mereka cukup menarik.”

“Itu hal baru buatmu. Tapi kau harus tahu, direktur. Mereka menganggapmu lebih dari sekedar menarik. Mungkin…mencengangkan?”

            “Kau juga yang mencekokiku dengan ide-ide pemasaran yang brilian.”

Hening. Jane terdiam manakala otaknya berpikir. Ia tentu saja tak ingin menyalurkan rasa rindunya dengan pembicaraan tentang pekerjaan yang memuakkan itu. Sedikit, ia ingin Marcus menyadarinya.

            “Aku harus cepat pulang.” ujar Marcus sambil mendesah, dengan terus terang menyampaikan maksudnya. Ia merindukan gadis itu.

“Ya. Sebaiknya memang begitu.” Jane menghela napasnya lambat-lambat. “Jangan lupa untuk menghubungi Candice. Ia nyaris mengamuk karena kehilangan tamu undangannya yang paling tampan.”

            “Ini kali pertama kau menyebutku tampan. Apakah itu sebuah pelecehan?”

Dengan susah payah menahan tawanya, Jane meletakkan gelas ditangannya dan berjalan sedikit tergesa keluar. Kearah taman di sisi rumah elite milik orang tua Candice. Angin malam itu cukup menusuk tulangnya sampai tubuhnya sedikit bergetar.

            “Pakai mantelmu jika akan menghadapi udara malam. Aku tidak suka kau menyiksa diri meskipun kau terlihat begitu cantik dengan pakaian terbuka jenis apapun.”

Rupanya Marcus samar-samar mendengarkan bibir Jane yang bergetar. Pendengaran pria itu menakjubkan. Jane tersenyum lebar ketika menyandarkan bahu kanannya yang terbuka pada sebuah pilar berlapis marmer yang menghadap langsung ke hamparan taman bunga krisan musim semi yang bermekaran.

“Urusi saja pekerjaanmu itu.”

Jane mendengar helaan napas Marcus yang terdengar depresi ditelinganya.“Hei, aku juga punya urusan denganmu.”

“Kalau begitu cepat pulang dan selesaikan semuanya.”

To Be Continued..

About these ads

94 thoughts on “Love Isn’t That Easy [Chapter 1]

  1. Haaaaaa puasssss ! Woaah ide ceritanya bagus , cerita cinta segitanya gak pasaran *eh keren deh :)
    Tapi masih ada sedikit kata katanya yang saya kurang ngerti maksudnya mungkin klo dibaca ulang udah ngerti dan masih ada typo dikit . Hey nunggu berapa bulan lagi ya buat lanjutannya muahehehe :p semangat buat sekolahnya

  2. Baca ceritamu kayak bca novel terjemahan.. Jujur aku suka bgt! Karena aku pemburu novel roman terjemahan dan I’m get lucky was found your WP..ffnya bgus, jelas dan menyenangkan..
    Salam kenal :)

  3. Pak Neun Rin says:

    heran deh dpet ide dimana ?
    bener2 butuh penggambarannya jane .. lwat pict q nyaris bnyangin jane itu bule, ngga enak bgt

  4. Naomi_Kyu says:

    huaaa, daebak buat unnie,
    keren bgt pokoknya,
    brarti jane sempurna bgt ya, ampe marcus bisa terpikat
    lanjut unnie, penasaran sangat ne

    Fighting!!!!

  5. naraya says:

    Wahhh sehun jadi adenya jane yah , kepikiran itu si sehun/nate rada2 setipe sama kyu …baca dulu deh mau langsung lanjut2 ke chap selanjutnya hehee

  6. woooo..
    kayaknya kyuhyun bener-bener dibikin bertekuk lutut sama jane nyampe-nyampe dia mau dijadiin ke dua gitu..
    nganga sendiri bacanya.. berasa kayak baca novel kehidupan sosialitanya orang Amerika..
    Suka deh kalo kyu cemburu gitu.. rasanya itu.. ga bisa digambarin deh..
    sempurna.
    aku baca lanjutannya ya..

  7. Hanifa says:

    hi, hello Annyeong^^
    aku………………………………………readers baru…………………. istri sahnya Yesung…….
    dpet blog ini, recomend dri tmen aku…….. wah senengnya, bagus2 apalagi kalo cast nya suami aku, yesung :3 mumumu……
    masalah bahasa… aku sih percaya aja, pernah denger bbrapa kali nama kafka-Annisa artinya burung wanita(?)0 ya…?? *ngajak ribut* *niat ngeledek* dan ternyata DAEBAK ^^bbbbb
    ah~ sudahlah, cuman bisa berharap km ga jadi benci sama reader reseh ini….
    Sekian…..
    Intro my self : Hanifa in Bandung Tw: @shiifly3424 ^^ MUEHEHEHHEHEHE

    • aduh au gaada feel sama yesung habis dia terlalu absurd wataknya (no offense) haha. Kan maksudnya pake analogi gituloooh engga burung beneran T_T. aku ga benci ko, sayang banget sama kamu hahah :-* haloo hanifa aku juga orang bandung!!! aku ga pake twitter lagi, maaf ya…

  8. huaa
    Baru kembali k blog ini stlh sekian lama gk brkunjung
    Aku kirain kmu hiatus panjang n.n
    Ini awal crta aku pikir gaya hdup mereka western bgt
    taunya masih memegang prinsip
    Heheh bagus
    Vincent itu sungmin bukan?aku gk trlalu hafal western name member sj

    • aku ga terlalu ngerti dibilang hiatus tuh harus berapa lama. yang pasti aku gabisa mikir cepet2 dan suka ngalor ngidul kalo dipaksain bikin harus mood dulu, baca novel dulu, baca ff orang lain dulu, ngaso dulu (banyak maunya emang) iyaaap vincent itu sungmin

  9. Bener-bener keren eonnie~
    Mendhing dibuat novel deh, wkw
    Fffuh, aku nggak bisa bayangin kalau Aiden sampai tahu hub gelap Jane dengan Marcus. Bakal jadi perang dunia ketiga ini XD
    Pokoknya kewwwreeen~

  10. annyeong, aku new reader disini. Woah~ ide ceritanya bener-bener menarik, ngambil tema tentang sosialita kelas atas. –> salah satu genre favoritku. *gk ada yang nanya*
    Itu ngambl setting tempatnya di Manhattan?

    Lanjut ke part 2 nya~

  11. woaaaaaaa speechless …jalan ceritanya bagus, alurnya oke , Aiden sama Marcus nya juga kece wkwk
    btw, ini publish bulan apa ya? aku telat banget :( abis udah lama ga buka blognya Kafka mian

  12. CKHPCY says:

    heuheu… lama nggak berkunjung ini… haha dan sekarang baca ini. dan tetep bagusss! meskipun saya kurang suka cerita yg selingkuh2an kayak gini hehe tp ini amazing kak;)

  13. CKHPCY says:

    lama tak berkunjung kemariiii semenjak postingan eligible yg terakhir… daan sekarang kesini lagi baca LITE haha ini amazing kak… tulisan mu selalu ‘dapet’! kk meskipun nggk terlalu suka sama cerita bertema selingkuh2an macem ini but… it’s okay;) fighting kak^^

  14. Atthena Dee says:

    keren bgt bahasanyaaaa.. Sumpah gue sukkaaa..
    Mengambil latar di barat bener2 bikin ini epep Keren sekeren kerennya. Hahah.

    Bosen dgn epep bersetting di timur yg terkesan kaku.

  15. Jane, pasti muka lo luar biasa cantiknya. Secara seorang Aiden sama Marcus tergila-gila sama Jane. Duh. Jane maruk nih ga bisa milih salah satu. Kasian kan Aiden. /peluk ikan/?
    Gue seneng banget pas tau Jane ‘dijaga’ sama dua manusia tampan itu. Kirain mereka udah bebas-bebas gitu, soalnya baca FFmu ini eon kayak baca novel terjemahan banget lah~ kerennya bangeeet ‘-‘)9 Jane lu sama Aiden aja sono, biar Marcus sama gue -,,,,,,,,- kan lumayan kaya,tampan pula. Buakakakak /slap/

  16. ny lee says:

    cinta segitiga yang menyenangkan klo menurut saya.. kkk ga bosen baca ini cerita. ceritanya g ketebak sama sekali.. dan selalu.ada feel d dlmnya.. kk so daebak eonni ^^
    FIGHTING..

  17. areny says:

    Annyronghaseyo eonnie :)
    aq dpet rkmendasi dr blog sbelah,trus maen” devh ksini ^^
    slam knal :D

    Kyu jd slingkhan ???
    wkwkwk…
    mlangnya nsibmu…
    aiden knp nggk dputusin aj ???
    jane cnta jg sm aiden emngnya ???
    klw nggk paen msih d prtahanin hbungan nya sm aiden pdahal udh jlas jane ska sm kyu….
    Ђέђέђέ«{^⌣^}»

  18. Suka bgt sm ide crita’ny,,kereeennn alur’ny jg rapi bahasa’ny apalagi kerenn kafka brgaya western :D aq mau tuw jdi jane d rebutin 2cwo ganteng :) lanjut bca dlu

  19. raraa says:

    bener2 gag kepikiran jane bakalan bermain2 di belakang aiden .
    Apalagi mainya sama sahabat aiden sendiri lagi .

    Ini yng gila janenya apa marcusnya .
    Bener2 luar biasa

    Semoga jane bisa cepet2 mengambil keputusan

  20. Suzy aaggitariuz says:

    Uughh enak amat ya jadi jane,punya dua cwo…..Bikin iri deh..

    Ff na emg gak pake pov yya eon,agak bgung bca na..??

  21. addie alexandria says:

    marcus sama jane pacaran gasih ??? pacaran atau cuma menjalin hubungan tanpa status ??
    kasian banget aiden mesti diduain , tapi jadi marcus juga nyesek !! engga pernah bisa mamerin kemesraannya sama orang laen ,, cukup berdua aja -_- musti terima perasaan bahwa saat jane mesramesraan sama aiden dia bakal hancur !!
    astaga astaga ini ff bener bener daaaaahhh

  22. naki says:

    kesan prtma udah waww bngt dgn dunia sosialita yg emng pas bngt bwt mreka,tp mslh uda da diawal dg hbungn pelik dlm prshbtan,
    hhmmm…..bgaimnpun jg q brhrap jane bs sm marcus,hehe :)

  23. Ingga says:

    Kerennnnnn bgt nih ffny.. Cnta sgtiga yg rumit. Dh gt dsukai hae & kyu, Qjg mw.. Wkwkwkwk.. Tp hrsny jane nntuin, bnr2 nntuin dy pilih mna. Kl mnrutQ sih cocok ma kyu, dpt gy gregetny..

  24. Jadi… Mereka itu pasangan gelap?? Si Jane nya kok tega sih selingkuh di belakang Aiden yg innocent itu? :’3
    tapi gimana bisa tahan juga sih kalo godaannya sekece Marcus. Muhahahaha XD
    honestly aku jarang banget baca ff yg pake casts nya western begini… tapi berhubung ada Thehun dan Kyu, HAJARRR!!!
    Toh authornya punya jalan cerita yg dewa banget inih.. Lol

  25. aina564 says:

    umm masih awal, gimana ntar akhirnya ya kalo aiden ditinggalin demi marcus atau sebaliknya, ah penasan :D lanjut part 2 hhee

  26. Imz says:

    Woaaaaa. Syukaaaaaaa banget, semunya sempurna. Hohoh… Syuka dengan semua karakter, setting, plot, dan semuanya… Apa lagi sama Marcus Jo, ya ampun keren banget. Deskripsi Jane sama Candice benar-benar tergambar dalam imajinasiku, meskipun onn ga kasih pic Jane hoho… kyaaaaaa syukaaaaa deh…

  27. kyu's heartbeat says:

    BAGUS?? DAEBAK?? ATO KEREN?? enaknya yg mana?
    baca ff ini brasa baca novek terjemahan karangan novelis terkenal. keren banget. jane . . sangat anggun. arogan. perfect semua tentang dia di deskripsiin dengan detail.
    cho kyuhyun . . no comment . . he’s alwys awesome :’)
    yg paling suka ya ide ceritanya. ini lg umum. tapi packagenya keren.

  28. hi! aku pembaca baru disini^^
    aku harus panggil kamu apa ya? unnie? hehe aku bingung orz
    hell ya! sumpah deh! aku suka banget sama tulisan kamu, mungkin sudah mulai nge-fans haha ya jelas aja, aku baca tulisan kamu kaya baca novel. Aku lagi nyari-nyari refrensi ff ataupun cerita bagus buat dibaca dan ternyata… wow i found your blog, and it was so… amazing haha. Jujur, aku suka cara penyampaian kamu disetiap bagian cerita di atas yang kamu buat^^b oh ya, salam kenal ya^^

  29. chocolatoet says:

    Nyiapain beribu banyak keberanian untuk baca epep ini, ikutan kacau dg nasib markus yg jdi kekasih gelap T.T
    Sungguh kekecewaan+sakit yang dirasain markus nyampe banget keulu hati. Emnag ya cinta g mandang milik siapa *eh*
    hey mark masih ada aku disini, come to my arms (?) HAHA

    Emng deh ya karya² kmu selalu keren^^, *berharap ending nya mark sama jane (˘ʃƪ˘) *

  30. vie says:

    Annyeong, newbie nih :D
    Vita imnida ^^
    Storynya kereen, aLurnya jeLas n ga kecepetan, gaya penuLisannya juga keren ..
    Penjabaran keadaannya juga pas, cuma ak tadi menemui beberapa typo yaa~
    Over aLL bagus ko :)

  31. Aku mikir yg di simpangkan itu si aiden. Ah eonn coba aja di bayangin muka ganteng si donghae sebagai aiden tidak jauh beda dengan si marc. Emang dasar.a si marc *aku anggapkyuhyun. Itu masih lebih berkarismatik aiden tapi daya pikat si marc bikin meleleh. Walaupun nyatanya seorang wanita sudah memiliki hubangan salahkan saja wajah brengsek marc *akutergoda hahaah

    entah duni gelap benua amerika seperti itu atau tidak. Aku ngerasa sebuah hubungan tanpa ikatan itu wajar. Apa guna.a rasa cinta di antara mereka kalau nggak ada hubungan??
    Lanjut baca ye :D

  32. Rasty Resty says:

    Wah cinta segitiga nih,,
    Ini bru part awal,, belum terlalu keliatan ya konfliknya,,
    Tp bikin gregetan,, tau kyu mau aja jd org kedua

  33. VynnaELF says:

    Neomu Joha…
    Baru pertama kali baca ff yg kata”nya gk pasaran,menarik.
    Cinta segitiga yg rumit,tp menyenangkan…!!
    Good job author
    keep writing,hwaiting!

  34. zhyfufu says:

    aku readers baru nih ka :)
    cerita nya keren, aku langsung bisa ngebayangin adegan nya gmna. tp g paham masalah wine, cocktail, sama dres nya haha jd aku g tahu bentuknya kaya apa, sulit dbayangkan nya ka :D
    dan itu latarnya di luar negri yah, nama nya jg pake nama barat. aku suka ka, mau lanjut baca part 2 nya aaahhhhh ^^

  35. Ohooo jadi ceritanya musuh dalam selimut nih. Saran buat jane sih. Kalo sudah kaya gini. Lebih baik pilih cinta yang kedua-read marcus- . aku jadi jane-marcus shipper deh. Dan suka banget dengan f4 versi kafka ini.

  36. HalcaliGaemKyu says:

    Hhaaa… Ya ampun puasnya ahahaa..
    Keren bgt!
    Aku jd berpikir klo sebenernya itu jane sukanya sm marcus. Tp dia belum sadar aja, dia msh menginginkan aiden.
    Wah seru bgt hubungan gelap mereka dibelakang aiden. Marcus hrs pinter2 milih waktu dan nahan emosi buat jane.
    Daebak bgt chingu…
    Gumawo

  37. ff unnie bnr2 DAEBAKKKKKKKKK ;) berasa kya baca novel terjemahan…keren
    aqu sk bgt sm cerita.a, apa lg dgn kehidupan2 sosialita.a org bulle,,,
    Oh janne beruntung.a kau bs dpt cowo2 perfect macam marcus sm si aiden….#iri ,,,,ayo ah terbang kepart selanjut.a ;)

  38. na says:

    huaaaaa gk ngebanyangi gmn klo jd jane???!!!itu gmn nasipnya si donghae yg diselingkuhin???pnsran tingkat tinggi!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s