Love Isn’t That Easy [Chapter 3]

[EMPATBELAS]

“‘Candice White akhirnya mengakui hubungannya dengan pengusaha brendy kelas satu, Vincent Angelini’? Sejak kapan headline koran niaga berubah menjadi rubrik gosip begini?”

“Kau meneleponku hanya untuk memberitahu aku masuk koran? Aku bisa membelikan pabrik koran itu untukmu, keparat. Kau mengganggu tidurku!”

Spencer nyengir lebar, baru saja menyadari perbedaan waktu Adelaide dan Manhattan yang membuat mereka berada di dimensi berbeda saat ini. Vincent dengan tidur malamnya, dan Spencer dengan sarapan paginya.

“Oh astaga, ini koran Australia! Kau tidak sadar popularitasmu itu sekarang sudah mencekik leher?”

“Candice punya cabang disana. Kau norak sekali. Atau, kau belum menemukan wanita Aborigin yang menarik minatmu sehingga kau melampiaskannya padaku?”

Sambil membolak-balik halaman pertama koran Seninnya, Spencer tertawa pelan. Hari-harinya cukup menyenangkan disini. Oh, ya. Lumayan, dengan berita-berita mencengangkan datang dari semua sahabatnya, hari-harinya semakin menyenangkan. Mungkin inilah hidup yang ditunggu-tunggu. Bukan sesuatu yang sempurna tanpa cela, melainkan konspirasi-konspirasi cerdik yang berdiri dibelakangnya. Mendadak ia merasa menggenggam dunia, menyadari hidupnya berjalan begitu lurus tanpa hambatan jika dibandingkan dengan tiga sahabatnya. Marcus yang brengsek, Aiden yang malang, dan Vincent yang sepayah udang dalam hal merayu anak bankir itu.

“Ada hal yang lebih menarik dibandingkan wanita Aborigin disini, kau tahu? Bahkan lebih menarik minatku ketimbang mengetahui kau mengajak Candice jalan-jalan di Time Square untuk mengajaknya nonton musikal.”

“Gadis itu akan mengamuk seharian.” tentu saja, batinnya. Candice  tidak suka ketenarannya dipersalahgunakan untuk hal yang sangat dibencinya; seperti hubungannya dan Vincent yag tak tentu arah itu.

“Sepertinya akan banyak yang mengamuk nantinya.”

“Kau melantur, atau mabuk?” tanya Vincent yang mulai tak mengerti arah pembicaraan Spencer.

            “Aku sehat disini. Tanpa alkohol dan tembakau. Hanya udara segar dan pemandangan indah dermaga, sedikit cerita-cerita cinta membumbui kota ini, Vince.” kata Spencer sambil tertawa, dengan mata menerawang. Koran dari hadapannya turun, ia tak lagi berminat pada halaman-halaman berikutnya.

“Kau mabuk, bung.”

***

Jane membuka matanya cepat, merasakan kepalanya berputar-putar menyakitkan. Sebenarnya ia merasa cukup beruntung pagi ini, ia tidak bangun dengan jantung yang berdetak ketakutan. Ia memijat kepalanya pelan, melihat Marcus masih tertidur tenang disampingnya.

Spencer brengsek.

Ia sempat mati ketakutan semalaman karena kepergok berselingkuh kemarin. Konyol memang. Tapi entah kenapa, semakin lama rasanya ia semakin merasa Spencer bukanlah hal yang harus diwaspadai. Ia tahu Spencer menyimpan banyak rahasia penting dan menyimpan hal itu sebagai kepuasan pribadinya semata. Jadi Jane hanya perlu menyiapkan kendali emosinya untuk mendengar sindiran-sindiran tersirat Spencer yang sebenarnya terlalu cerdik untuk dimengerti orang lain. Dan Marcus, pria itu setenang air kolam tak ber-ikan. Ia tidak peduli pada apapun yang akan dilakukan Spencer, bahkan jika Spencer benar-benar membeberkan semuanya. Ia hanya khawatir pada ketakutan yang menyergap Jane semalaman, membuatnya mengumpat tanpa melakukan apa-apa.

Mengenyahkan rasa pusing yang mendera, Jane meraih ponselnya di nakas yang berdering dan menjadi faktor mengapa ia bangun tiba-tiba tadi. Setelah melihat nama Aiden disana, Jane menyibak selimutnya, berjalan menuju sebuah konter dan mengambil setengah gelas air putih dari sana.

“Ya, Kennard.”

“Hei, kau tak merindukanku?”

Jane mendudukkan tubuhnya disebuah kursi bar tinggi, matanya melayang pada Marcus yang masih mendengkur halus dikasur. “Ya, dan tidak.”

“Ya, untuk?”

“Aku sedikit kesal karena kau baru menghubungiku.”

Aiden menyembunyikan senyum sinting diwajahnya, menggantung jawaban Jane yang sama sekali tidak memuaskan. “Dan tidak, untuk?”

“Karena kau mengirimkan Mc.Yard tanpa menyalakan alarm untukku.”

“Aku tidak mengirimkannya, sayang.”

Jane meneguk isi gelasnya cepat. “Alarmnya. Kau tak memberitahuku.”

“Kau saja yang kurang peka.”

“Oh ya. Pekerjaanku, Kennard. Aku sedikit pusing disini.”

“Aku bisa bernegosiasi dengan Marcus.”

Bernegosiasilah sampai milenium berikutnya, batin Jane. Marcus bukan pria toleran soal pekerjaan–bukan, soal teritori kepemilikannya. Teritori haknya.

“Kau hanya membuang waktumu, Aiden. Janga khawatir. Aku akan pulang setelah semua kerjasama difiksasi, mungkin lusa, atau besoknya.”

Aiden sedikit was-was karena ia tahu seberapa lelah gadis itu. Mungkin negosiasinya memang akan sia-sia karena Marcus memang tak pandang bulu pada karyawannya. Tapi sepertinya ia akan melakukan negosiasi jam kerja itu cepat atau lambat.

“Aku harus bersiap. Kau harus pergi kekantor besok.”

“Ya. Sampai jumpa. Aku mencintaimu.”

Dalam detik itu, Jane mengingat sesuatu. “Oh, Aiden.”

“Apa?”

“Kau berhutang satu pasang Stuart Weitzman padaku.”

Jane tahu, Aiden tidak akan pernah menyesal melepaskan tiga juta dolar dari rekeningnya.

“Seharusnya aku tahu Candice adalah tipe gadis sok yang ternyata mudah dirayu.”

***

“Kalian memiliki hubungan yang sehat sekali.”

Jane memutar bola matanya jengah, berusaha menghabiskan pastry-nya dalam waktu kurang dari lima menit jika ia tak ingin telinganya panas karena sindiran orang pongah ini. Dunia rasanya bergetar ketika Marcus dengan sialan memilih tempat sarapan yang sama dengan Spencer, semenjak pria itu memang tidur di hotel yang sama dengan mereka

“Tutup mulutmu.” ujar Marcus tajam, namun masih menganggap hal itu tidak telalu serius. Spencer terkekeh dan meneguk minumannya santai, menatap Jane dan Marcus bergantian dengan seringaian khasnya. “Menyingkirkan fakta Aiden dan Marcus adalah temanku, sepertinya aku akan mendukung kalian sebagai pasangan terpanas versi Majalah Times.”

Dengan tenang Marcus menyesap kopi kental dan pahitnya, membiarkan Spencer mengoceh sesuka hati. Itulah risikonya. Tapi ia yakin, Spencer tak akan bisa berbuat lebih jauh dari itu. Spencer hanyalah orang oportunis dan mengambil semua kesempatan berharga untuk kepuasan batin dirinya sendiri. Hidupnya terlalu membosankan, dan Marcus tahu itu.

“Oh ya, mungkin bulan ini bukan giliran kalian di Times. Wajah Candice dan Vincent akan memenuhi covernya bulan ini.” celotehnya. Jane mengerenyit, menatap Spencer defensif. Kesimpulan termudah yang bisa didapatkannya, Vincent dan Candice membuka hubungan ke publik?

“Jangan kaget begitu. Koran Australia juga mencetaknya.”

“Candice tidak menceritakan apapun padaku tentang ini.” pekik Jane yang kesal karena ternyata, Candice benar-benar tidak menjadi wanita mahal jika sudah disandingkan dengan Vincent. Satu seks saja, dan ia runtuh dengan prinsip melajang sehidup sematinya. Jika bukan karena seks Vincent yang hebat, hal lain yang memungkinkan adalah karena Candice memang terjerembab terlalu dalam dan mulai mencintai pria itu.

Spencer melemparkan koran pagi yang dibacanya tadi ke tengah meja dengan wajah sumringah. “Desainer angkuh anak bankir itu menceritakannya pada seluruh dunia.”

“Oh lihat ini, Jane.” Marcus menyodorkan halaman pertama koran pagi berbahasa Inggris itu pada Jane, menampilkan foto alami Vincent yang tengah merangkul bahu Candice di trotoar Time Square. Ekspresi Candice tidak terlalu terbaca, mungkin sedikit kesal, dan wajah Vincent tesenyum puas seperti dugaannya. Siapa sangka desainer fashion termahal se-Manhattan macam Candice White mau diajak berjalan-jalan siang bolong ke Time Square?

“Covernya indah sekali.” cetus Jane lalu melempar koran itu kembali ke tengah meja, ingat dengan tujuannya menghabiskan pastry kurang dari lima menit.

“Berita kalian pasti akan lebih heboh dari ini.”

Mulai lagi. Jane sekarang mematok waktu untuk menghabiskan sarapannya kurang dari tiga menit.

***

[LIMABELAS]

Tidur yang nyenyak seperti kucing tidur berhari-hari dalam pangkuan majikannya yang mengenakan baju sutra lembut dan hangat. Itulah yang dirasakan Vincent ketika ia baru saja bangun, menyadari bahwa ia hanya tidur diatas sofa beludru berwarna abu-abu di sudut kamarnya. Otot-otot tubuhnya terasa begitu rileks, matanya begitu malas meskipun ada banyak kesegaran kalau ia mau mencipratkan sedikit air saja ke wajahnya. Tirai masih tertutup rapat, namun ada seberkas cahaya matahari masuk di sela-selanya. Ia bahkan berpikir, jika Candice datang pagi ini, hidupnya akan sempurna.

Dengan langkah terhuyung ia meraih ponselnya di konsol kerja. Tidak ada panggilan. Itu artinya, Candice belum membaca berita pagi ini–seperti seheboh yang diucapkan Spencer tadi malam. Jika saja sudah tahu, gadis itu pasti akan mencak-mencak, menyuruh seisi rumahnya untuk menjauhkan telepon dan meminta mereka menjawab semua pertanyaan wartawan tentang ujung skandalnya kemarin siang. Ia tersenyum penuh arti, ujung skandal, atau awal skandal?

Ia sudah diberitakan memiliki hubungan tidak biasa-biasa saja dengan Candice satu tahun yang lalu, dan selama itu pula Candice menolaknya. Pada awalnya Vincent tidak terlalu memikirkan status–tapi lama-lama, rasanya terlalu berbahaya membiarkan gadis yang dipujanya berkelana menjalani hidup tanpa seseorang yang memiliki hak paten untuk melindunginya. Yah, semacam embel-embel pacar, atau bahkan suami. Meskipun Vincent tahu, Candice adalah tipe wanita yang sangat sulit didekati pria manapun.

Bunyi ‘beep’ mendengung di telinganya. Ia bergegas mendekati intercom terdekat, lalu melebarkan tarikan bibirnya ketika wajah seorang desainer yang sering mampang di teve memenuhi layar intercomnya.

Sempurnalah hidupku.

“Hai sayang, pagi sekali.”

Layar menampakkan wajah Candice yang berkerut, sukses membuat Vincent nyaris terbahak.

“Panggilan apa itu? Cepat buka! Sudah untung aku sampai kedepan pintu ini dengan selamat.”

Vincent masih senang menggodanya, membiarkan kakinya lebih betah berdiri didepan intercom ketimbang melangkah dan membukakan pintu. Ia bisa melihat gadis itu seperti biasanya, wajah segar, cantik, berpoles namun tetap natural–khas pekerja mode, sementara rambutnya entah bagaimana caranya kini sudah ikal di beberapa tempat. Ia masih ingat sampai kemarin sore, rambut gadis itu lurus dan hitam.

“Hari ini tabloid membuatmu tidak selamat, ya?” ujar Vincent sambil terkekeh, menikmati lebih banyak kerutan kesal diwajah gadis itu.

“Oh ya, Angelini. Buka sekarang juga. Aku tak punya waktu berbasa-basi denganmu. Lagipula lidahku sedang kebas.”

“Kalau begitu aku akan membuatnya tidak kebas lagi. Sebentar.”

Dari luar, Candice mengetukkan wedges mahal merah maroonnya tidak sabar. Suara Vincent terdengar begitu sumringah, sekaligus menjengkelkan. Pria itu akan puas setengah mati begitu mendapati wartawan menarik kesimpulan sepihak tentang hubungan mereka. Yah, kini publik yang selalu mau tahu itu mematri pernyataan bahwa Candice White berpacaran dengan Vincent Angelini. Panik, tentu saja. Ia memerintahkan semua orang rumahnya untuk mengambil alih telepon dari wartawan yang berlomba-lomba mengonfirmasi, dan lidahnya menjadi kebas karena hal itu.

Apa yang Vincent katakan mengenai ‘membuatnya tidak kebas lagi’ adalah sesuatu yang meresahkan Candice. Pria itu dengan sembarangan menarik Candice ke rangkulan tangannya, mencium bibir gadis itu dengan membabi buta, benar-benar seperti babi hutan yang kelaparan dipagi hari karena tidur panjangnya. Candice mengutuk dirinya sendiri, dan mendapati bahwa kini lidahnya justru berbalik hangat, sedikit peka. Gadis itu merasakan sedikit sari kacang almon di lidahnya, dan…alkohol.

“Apakah pengusaha minuman keras meminum produknya setiap hari?” ucap Candice ketika ia berhasil melepaskan diri, sementara Vincent tengah mengusap ujung bibirnya sendiri dengan punggung tangan. Candice menganggap aktivitas itu terlihat…oh, astaga. Apa namanya? Seksi?

“Salah satu bentuk observasi lapangan.”

“Dan…apa itu? Kacang almon?”

Alis Vincent berkerut, kemudian dengan perlahan melepaskan rangkulan tangannya dan membiarkan gadis itu kembali menghirup udara dengan leluasa. “Kau tak sadar ya? Rasa almon itu dari bibirmu.”

“Aku?” Candice menyentuh bibirnya yang lembab karena lip balm. Entah pikun atau salah mengambil kotak lip balm, seingatnya ia memutuskan menggunakan lip balm dengan wangi petunia tadi pagi.

“Lupakan. Ayo masuk. Kau mau mendiskusikan gosip panas pagi ini kan?” celoteh Vincent asal.

Candice menyuruk masuk tanpa permisi, merasakan udara pengap di hidungnya. Ia mengerenyit ketika kamar itu masih sama-samar gelap, cukup berantakan untuk dilabeli dengan nama ‘apartemen milik Vincent Angelini’.

“Kau habis berpesta semalam suntuk ya? Astaga.” ia bergegas menuju tepi, membuka dua tirai sekaligus membuat sinar matahari yang menyilaukan menghantam apartemennya. “Dan bukan diskusi. Tapi aku akan menjagalmu pagi ini.”

Vincent menyurukkan kedua tangannya ke saku celana, berjalan santai dan memerhatikan bagaimana Candice dengan telaten membuka tira-tirai besar diruangan ini. Gadis itu seperti istri yang sibuk di pagi hari, pikirnya. Tapi terlalu pagi untuk berdandan semodis itu.

“Wah, aku takut sekali.”

“Diam dan dengarkan.” ucap gadis itu tajam, lalu menghampiri Vincent yang sedang bersandar di salah satu dinding kosong. Kesalahan besar, setelah ia menyadari bahwa ia mampir dihadapan pria itu dalam jarak yang terlalu dekat.

“Telingaku sedang tidak kebas, kok.”

Candice menjatuhkan tas jinjingnya sembarangan, lalu melipat tangan di depan dada seperti hendak mengintrogasi orang. Tatapannya terfokus pada pupil mata Vincent, berusaha sedikit saja membuat pria itu waspada–yang nyatanya sia  sia saja.

“Kau tahu siapa aku, dan aku juga tahu siapa kau.” Candice memulai dengan tenang, sementara Vincent hanya mengangguk dan menjejalkan kedua tangannya lebih dalam lagi di saku. “Kita itu bahan taruhan media.”

“Kau, bukan aku.” seloroh Vincent sambil mengamati paniknya gadis itu.

“Delapan puluh persen aku, sisanya kau. Puas?”

“Dua puluh persen itu angka yang terlalu besar untukku.”

Candice memejamkan matanya frustasi. Perdebatan tidak penting yang sengaja dilakukan untuk mengulur waktu. Taktik kuno Vincent.

“Dua puluh atau nol koma dua sama saja, kau tetap ikut andil dan aku tak mau ambil risiko apapun.”

“Tidak ada risiko apapun yang harus kau ambil, nona.” ucap Vincent tenang. Ia melihat Candice mulai resah, pasti sebentar lagi akan ‘tumpah’.

“Aku kan–“

“Seingatku kau tak pernah berkata pada wartawan kalau kau anti-komitmen. Dan kurasa–“

“Jangan potong ucapanku, Vincent.”

Vincent mendesah, “Oke. Teruskan.”

“Ada beberapa batasan yang harus kau ingat.”

“Kebetulan otakku sedang kebas, Dice.”

Wajah Candice berubah muram. Seperti apa kata Vincent, sebentar lagi ia akan ‘tumpah’.

“Setidaknya telingamu punya memori.”

“Coba saja katakan.”

Dengan susah payah Candice menarik napas, membiarkan kejengkelannya meluruh seiring udara dari paru-parunya keluar. Pikirannya sudah cukup dipusingkan pagi ini, dan ia tak berniat menambah pikiran saat ia bekerja nanti. Aku hanya perlu berbicara soal ini lima menit, lalu pergi dan bekerja seperti biasanya.

“Pertama, kau tidak kuizinkan memberikan pernyataan apapun pada wartawan tentang kita, atau tentangku–dalam ranah karir sekalipun. Kau dan media adalah duniamu, hanya tempat dimana kau berbicara sebagai Vincent Angelini, seorang pengusaha sukses.”

“Aku belum pernah menjawab pertanyaan wartawan manapun. Tentang profit membanggakan perusahaanku sekalipun.”

Kesombongan pria itu memang tidak bisa disalah artikan. Itu memang nyata, dan sedikit menyebalkan bagi Candice.

“Kedua, jangan ganggu aku saat sedang bekerja. Apapun alasannya.”

“Kecuali kau tidak menolak.”

“Vince, aku tidak main-main.” lenguh Candice karena ia tersadar bahwa Vincent benar-benar akan mengebaskan otaknya saat ini. Menolerir sebuah komitmen benar-benar membuatnya sedikit was-was.

“Teruskan kalau begitu.”

“Terakhir.” Candice bertatapan lebih intens lagi dengan Vincent. “Aku mau kau menemui ayahku.”

Seiring dengan berakhirnya kalimat itu, Vincent mendapati wajah wanita dihadapannya melembut. Keresahan itu hilang, dan kelembutan itu perlahan-lahan menimbulkan kegugupan kecil. Terkutuklah kendalinya saat ini, dan kini kendalinya  itu mengarahkannya untuk menunduk, mencium  gadis itu dengan gerakan sama lembutnya.

“Kau mau aku melamarmu? Kakiku sedang tidak kebas, lho.”

Candice mengembalikan tatapan wajahnya yang tajam, mundur beberapa sentimeter dari tempatnya semula. “Hanya menemui. Ingat itu.”

Merasakan satu beban terangkat dari pundaknya, Vincent tak dapat menahan senyum lebar di bibirnya detik itu juga. Ia mendekati Candice dan merangkul gadis itu ringan, dipermudah dengan kenyataan bahwa tidak ada penolakan sama sekali. Ini lebih dari sempurna.

***

[TUJUH BELAS]

Fiksasi kerjasama yang menguntungkan dua belah pihak secara adil tidak pernah benar-benar terjadi diatas dunia ini, tepatnya didalam dunia perbisnisan yang daya saingnya bahkan hampir melibatkan aksi kriminal hanya untuk memenangkan tender. Ironis, memang. Tapi kalimat itu bukan ditujukan untuk Marcus Jo, tentu saja. Pria itu akan selalu berpikir cerdik dan mahapintar, dan luar biasanya, ia tidak pernah bermain kotor untuk urusan apapun. Yah, kecuali untuk urusan merebut pacar sahabatnya sendiri.

Senyum Marcus terkembang sempurna, dengan wibawa diatas normal, tangan besar sekaligus rampingnya menjabat erat sebuah tangan lain. Seorang pengusaha produk harian di Australia yang berniat menggandeng Jo Exports untuk melibatkan urusan distribusi barang mereka. Bisa dikatakan kali ini, keuntungan lebih berat diambil oleh pihak Jo Exports–yang bisa dikatakan sebagai prestasi Jennifer Falkner.

“Senang bekerjasama denganmu, Tuan Jo.”

Marcus hanya menyunggingkan senyum separonya, kemudian mengakhiri makan siang basa-basi itu secepat mungkin. Dengan cepat ia meluncur pergi, menjalankan mobil dinasnya dengan kecepatan sedang menuju sebuah tempat dimana Jane berada. Gadis itu bilang kini ia sedang bersama Spencer di pusat perbelanjaan elite di pusat kota Adelaide. Sedikit aneh, memang. Pikirnya, Jane tak mau lagi menempel pada Spencer setelah insiden siang kemarin. Tapi sepertinya Jane sudah mengerti tentang sejauh apa Spencer bisa bertindak–oh, mau betindak, tepatnya.

“Oh, astaga. Wanita sama saja dimana-mana.”

Foodcourt yang sepi pengunjung itu menjadi pilihan dimana Jane dan Spencer meghabiskan makan siang, menunggu kedatangan Marcus yang sudah dijanjikan. Ketika Marcus datang dan langsung mencium pipi kanan-kiri Jane, ia mendengar Spencer mengeluh seperti anak kecil yang gagal bermain di lapangan hoki, memelas.

“Kau yang menganggap mereka sama.” ujar Marcus seraya duduk dan mencomot sepotong nachos di piring kertas milik Jane, menelannya dalam satu gigitan. Ia bahkan tak ingat kalau ia sudah makan siang mahal sebelumnya. “Dan, apa yang ada diotakmu sampai begitu frustasi dan memutuskan untuk membuang-buang waktu bersama bajingan ini?”

Pertanyaan itu nyaris membuat Jane tersedak Thai-tea yang diminumnya. Sementara itu, Spencer mendelik Marcus dengan tatapan melas yang sama. “Hei, hei. Jangan menghinaku.” Ia ikut mencomot nachos milik Jane, yang langsung mendapat tatapan tajam dari gadis itu dan berusaha tidak mempedulikannya. “Pacarmu sudah menguras uangku untuk bermain portable basketball selama dua jam penuh. Memangnya kau tak pernah mengajak pacarmu bermain di gamezone, ya?”

“Aku akan membayarnya tujuh kali lipat. Berisik sekali.”

Merasa menang, Jane menjulurkan lidah pada Spencer dan tertawa puas. Yah, mengalahkan Spencer satu poin saja entah mengapa sudah membuatnya bahagia lahir dan batin.

“Mengapa kau dan Vincent semakin hobi menyombongkan harta didepanku? Kau pikir aku sebegitu miskin?”

“Kau sendiri yang membuat dirimu terlihat miskin. Lihat pakaian turis itu. Astaga, kau seperti pengemis.”

Refleks Spencer menatap tubuhnya dari mulai kaki yang dibalut sneakers merwarna hijau tua, celana selutut dengan gaya compang-camping dan sebuah kemeja longgar khas pantai yang menurutnya keren-keren saja. Oh ya, ditambah topi anti terik matahari sebesar plang iklan kesehatan masyarakat di Fifth-Avenue dan ray-ban mahal mampir menggantung di hidungnya.

“Oh aku tersanjung. Mungkin aku akan mencoba berkonsultasi pada Candice minggu depan.”

Jane ikut terkekeh, memandang Spencer yang sebenarnya tidak terlihat seperti pengemis. Semua hal yang melekat di tubuh pria itu sudah pasti barang branded, atau mungkin setidaknya terlihat seperti pengemis Manhattan yang bisa membeli empat puluh koin untuk bermain portable basketball di kurs dolar Australia yang sedang menjadi primadona. Kekehannya berhenti ketika ponselnya berdering. Layar ponsel itu sukses membuatnya mengerenyit.

Astaga. Meg rela menghabiskan banyak uang untuk mengomelinya lewat transmisi roaming lintas negara.

“Meg.”

“Jane, kau harus pulang sekarang juga. Astaga aku tak tahu apa yang harus kukatakan pada ayahmu. Bagaimana ini? Ba–“

“Meg, bicara yang benar.” potong Jane ketika kepanikan absurd Meg semakin menjadi. Dan Jane samasekali tidak akan menangkap berita buruk apapun jika Meg mempertahankan kelinglungannya dalam berbicara. “Tenanglah. Ada apa?”

Pandangan Marcus dan Spencer beralih pada Jane. Gadis itu mengakhiri makannya meskipun masih tersisa seperempat potong nachos dihadapannya.

“Nate. Oh astaga. Untung saja Elkan sedang bersamaku. Adikmu tertangkap memiliki narkotika, Jane.”

Jika tidak memiliki kendali penuh atas tangannya, Jane mungkin sudah menjatuhkan ponsel itu sampai menghantam tanah. Ia berusaha sebisa mungkin mengontrol suaranya agar tidak memperburuk suasana hati Meg, dan cukup kaget ketika justru wajahnya tak bisa menyembunyikan kegusaran. Spencer dan Marcus menatap gadis itu lekat, menebak-nebak apa yang baru saja didengarnya sampai menampilkan reaksi orang syok seperti itu.

“M..maksudmu–“

“Korban.” Jane mendengar Meg mulai terisak, napasnya berubah pendek-pendek. Ia bisa mendengar ada suara deru napas lain disana–mungkin napas Elkan. “Pecandu kelas dua, aku tak tahu bagaimana–“

“Jangan teruskan. Aku akan menemukan penerbangan tercepat untuk pulang.”

“Ada masalah?” tanya Spencer ketika melihat Jane sibuk membereskan barang-barangnya, benar-benar berniat akan mencari penerbangan tercepat ke New York. Marcus meneliti ekspresi wajah gadis itu sekali lagi. Takut…bukan. Bukan takut. Lebih mirip ke arah gelisah. Oke, khawatir. Apa yang dikhawatirkannya tentang ucapan Meg?

“Jane.” Marcus menahan gadis itu tepat di pergelangan tangannya, tak membiarkannya beranjak sedikitpun. Kegelisahan diwajahnya semakin tampak, dan Jane dengan cepat menghempaskan tangannya dari cengkraman Marcus. “Aku tidak ada waktu untuk ber–“

“Kita pulang. Ceritakan semuanya sambil jalan.” dengan cepat Marcus memeluk gadis itu erat, mengusap bahunya yang ternyata sedikit bergetar. “Tenanglah dulu. Kau panik sekali.”

***

[DELAPANBELAS]

“Keparat. Brengsek. Anak bajingan.”

Jane memijat keningnya yang terasa berputar-putar, dadanya sakit melihat pemandangan dihadapannya. Seorang anak sembilan belas tahun berwajah pucat, mata cekung, kurus, menggigil dengan getaran hebat ditubuhnya. Wajah anak itu…mirip sekali dengan ibunya.

Nate bergeming. Ia sibuk mengatasi rasa sakit luar biasa yang menggerogoti tubuhnya, menjalar dari ujung kaki hingga ubun-ubunnya. Rasa sakit itu begitu dingin, laksana otot dan tulangnya dicabik-cabik dan dibuang didepan matanya sendiri. Tubuhnya yang menggigil, bibirnya yang membiru, membuat ia berpikir ia tengah berada di jalanan di musim dingin dalam kondisi telanjang. Pandangannya berkabut, ia hanya bisa melihat samar-samar kemarahan yang menempel di wajah Jane. Beralih kesamping, ada Meg yang sedang menangis tersedu dan seorang laki-laki tambun yang sedang menenangkannya. Dan jika ia tidak salah ingat, disamping Jane ada Marcus, orang yang sering ia temukan di kamar kakaknya dan disampingnya… Spencer. Ia beberapa kali bertemu dengan teman kakaknya itu.

“Apa yang kau pikirkan? Kau… arrrgh astaga. Kemana diplomat kebanggaan negara itu waktu anaknya sekarat begini?”

“Aku sudah menghubungi ayahmu–“

“Gila! Kau dan ayahmu gila!” bentak Jane frustasi, mengacak-acak poni rambutnya sendiri.

Marcus menarik paksa Jane keluar ruangan agar tidak mengumbar kata-kata tak berguna lagi dihadapan Nate yang sedang berjuang melawan sakaw, dan ia yakin hal itu akan memperkeruh suasana hati Meg yang sudah hancur berkeping-keping. Ia tahu, Jane marah setengah mati pada anak itu, tapi rasa khawatir yang ditunjukkannya bahkan melebihi rasa sayang seorang kakak se-eksplisit manapun yang pernah dilihatnya. Gadis itu terlau marah, tapi tak pernah menyalahkan adiknya. Ia menyalahkan ayahnya, dan juga…dirinya sendiri.

“Jane, tenanglah.”

“Kau belum lihat aku baru saja akan membunuhnya.” desis Jane tajam, menghempaskan cekalan tangan Marcus lalu bersandar lemas pada dinding koridor pusat rehabilitasi yang lebih mirip dengan rumah sakit jiwa itu. Spencer mengikuti mereka, lalu menatap Jane dengan tatapan yang…sulit diartikan. Jujur saja. Ini kali pertama Marcus dan Spencer melihat Jane begitu gamblang mengkhawatirkan adik ‘keparat’nya.

“Kelas dua, Jane. Banyak kemungkinan adikmu bisa lepas tanpa sisa dari obat-obatan itu.” ujar Spencer pelan.

“Kau tak lihat anak itu sedang sekarat?!” Jane merosot kehilangan tenaga. Marcus berjongkok mengikuti jajaran wajah gadis itu, berusaha tetap memerhatikan perubahan ekspresinya dari detik ke detik. Frustasi, marah. Baru saja Marcus akan merangkul gadis itu ke dekapannya, ia merasakan tangan Spencer menahannya.

“Jane.”

Nerakanya kembali.

Kini, ia melihat Jane menumpahkan segalanya dipelukan Aiden. Pria itu berhasil membuat Jane menangis, memuntahkan airmatanya dengan begitu mudah–terlalu mudah jika mengingat Jane belum pernah menangis dipelukannya. Dibahunya.

“Ada aku disini. Baik-baik saja. Semua akan baik-baik saja.”

***

Dramatis. Spencer membiarkan semua dramatisasi kehidupan terjadi didepan matanya sendiri. Perselingkuhan, penaklukan, pengkhianatan, dan…apa kali ini? Cerita keluarga?

Ia bukan teman yang buruk, tentu saja. Ada perasaan yang lebih kuat dari sekedar rasa kasihan hinggap ketika melihat Jane banting otak memikirkan adiknya. Oh yah, menyingkirkan fakta bahwa Jane akan mengundang perang diantara kedua sahabatnya.

Aiden menenangkan gadis itu dan membawanya entah kemana, sementara Marcus? Tentu saja menenangkan dirinya sendiri, yang juga entah dimana. Asumsinya, mungkin Marcus akan menghabiskan sisa hari ini dengan mabuk-mabukan dan ia sedang tidak berbaik hati untuk menemani sahabatnya itu.

Disinilah ia sekarang. Koridor pusat rehabilitasi di pinggiran sungai Brooklyn yang bau obat-obatan, nuansa putih pucat yang mengerikan, orang-orang berwajah ramah berseliweran kontras dengan orang-orang yang terlihat begitu menakutkan ikut juga berseliweran. Orang tipe kedua itu sepertinya digunakan untuk memarahi para pecandu, kebanyakan pria dengan wajah mirip algojo depkolektor. Tempat ini terlalu familiar. Sangat familiar. Tempat dimana ia menghabiskan tiga tahun dari seluruh hidupnya untuk berpikir bahwa ia juga seorang manusia. Tempat dimana ia membentuk dirinya menjadi seorang Spencer Mc.Yard yang naif, munafik, menganggap hidup begitu tidak artinya sementara masa lalunya tidak pernah berkata seperti itu. Tempat dimana ia sempat menggantungkan hidupnya pada seseorang. Tempat yang menjadi alasan mengapa ia mengerti perasaan Jane begitu dalam tanpa orang lain ketahui.

Kakinya melangkah begitu pelan, ke sebuah jalan lain yang berlainan dari koridor itu. Beberapa orang berseragam putih menyapanya ramah, beberapa yang lain berbisik-bisik mengagumi ketampanannya seperti biasa.

“Tuan Mc.Yard? Bukankah ini belum tanggal dua puluh lima?”

Spencer mengenali orang itu. Seorang wanita yang usianya beberapa tahun diatasnya. Seragam putih membuat kulit negronya terlihat begitu kontras, kacamata dengan minus tebal menggantung di hidungnya, rambut keriting yang memperjelas rasnya. Maria Bellanca, seorang pskiater muda yang begitu ramah,  berdedikasi penuh pada karirnya dan lebih dari sekedar peduli pada pasiennya.

“Aku punya kalender, dokter. Kau tak perlu mengingatkanku.” ucapnya sambil memeluk wanita itu ringan. “Ada seseorang yang perlu kujenguk disini.”

“Selain Ashley?”

Spencer berjalan disamping wanita itu, merangkulnya bahunya ringan. “Seperti apa yang kau bilang, ini bukan tanggal dua puluh lima.”

Wanita negro itu mengangguk. “Sambil meyelam minum air, kan? Orang oportunis sepertimu tak akan mungkin menyia-nyiakan kesempatan seperti ini.”

Ketika mereka sampai di depan sebuah pintu kaca, Spencer tersenyum kecil. Dibalik kaca itu, seorang gadis tengah duduk di tepi bangsal dengan tangan yang piawai memainkan senar gitar akustik. Wajah gadis itu terhalang rambutnya, tapi ia bisa merasakan wajah itu bersinar entah untuk alasan apa.

“Apakah karena kau datang hari ini, tanggal dua puluh lima minggu depan kau tak akan datang?” tanya wanita itu seraya mengikuti arah pandang Spencer yang sedang mengagumi objek dibalik kaca. Ia tak dapat mendengar suara apapun dari tempatnya, tapi ia tahu betapa indahnya petikan dawai itu.

“Kau bilang sendiri aku orang oportunis. Tentu saja aku akan datang, dokter.”

***

[SEMBILANBELAS]

Aku mabuk, dan aku tahu itu.

Marcus berulang kali mengucapkan hal itu di benaknya, tapi tangannya yang kurang ajar itu terus-terusan bergerak diluar kendali, mengambil botol wiski dan menuangkannya lagi dan lagi kedalam kelas bening sebesar tiga jari. Kepalanya sudah terlanjur berat, matanya sudah terlanjur tidak fokus. Pikirannya terlalu keruh untuk berpikir.

Jane.

Gambaran bagaimana tangisan gadis itu pecah mulai mengerubungi otaknya. Gadis itu brengsek, tapi Marcus tak pernah mengerti mengapa ia menjadi terlalu terpukul manakala Jane menangis. Lebih mengerikan lagi, bukan ia yang menyembuhkannya, mengusap pipinya yang basah dan mengeringkan mata sembabnya.

Bukankah gadis itu sudah menyuruhnya pergi? Artinya, tidak ada yang salah dengan gadis rapuh itu. Dirinya sendiri yang bodoh. Terlalu tolol untuk diam dan menikmati semuanya secara tidak utuh. Membiarkan dirinya sendiri beranjak gila perlahan-lahan, sementara ia tahu gadis itu tak akan melakukan apapun.

Kecuali aku menghendakinya.

Marcus menatap cairan bening di tangannya. Tanpa sadar seringaiannya terkembang, satu senyum licik hinggap di bibirnya.

Dan aku akan menghendakinya.

***

“Ya, aku baik-baik saja.”

Lidah Jane rasanya pahit mengatakan hal itu. Yah, ia mengakui tak akan ada percaya dengan kata-kata klasik itu jika keluar dari mulut seseorang yang baru saja mengetahui bahwa salah satu anggota keluarganya menjadi pecandu narkotika–kelas berapapun.

“Minum obat penenang dan istirahat, oke? Aku akan kesana besok siang, setelah aku menyelesaikan–“

“Ya, ya, Kennard. Selesaikan apapun dan kembalilah kesini.” potong Jane cepat sebelum Aiden menyelesaikan petuahnya. Tanpa diketahui Aiden, Jane diam-diam menelan satu tablet obat itu lalu meneguk air putihnya. Lidahnya semakin terasa pahit.

“Pasti.” helaan napas Aiden terdengar begitu berat, Jane tahu pria itu mengkhawatirkannya dalam tingkat yang tidak normal. Mempertipis kemungkinan itu, Jane menarik selimut tebalnya, memejamkan mata dan bersyukur untuk pertama kalinya. Seseorang benar-benar khawatir padanya.

“Tidurlah. Aku mencintaimu, Falkner.”

Jane menggumam, ponselnya merosot ketika matanya mulai memberat. Belum sepenuhnya–karena ia masih bisa merasakan seseorang mengusap rambutnya lembut, terlalu jelas bahkan saat rasa kantuk itu berubah menjadi rasa lelah yang luar biasa. Keinginan untuk memejamkan mata itu diperparah oleh kecupan di kedua matanya yang tak kalah lembut, beralih ke hidungnya. Ia masih bisa mempertahankan kesadarannya yang tipis karena bau alkohol yang menusuk, membuat tangannya tanpa sadar meraba objek dihadapannya.

“Ini aku.”

Bau alkohol menyeruak, lebih jauh menonjok saluran pernapasannya. Jemarinya kini menyentuh bibir pria itu, dan dengan gerakan cepat pula pria itu mengambil tangan Jane, menggenggamnya erat.

“Kau belum…pulang?” ujar Jane dengan suara begitu pelan, merasa menyesal mengapa ia menelan obat tadi. Yah, setidaknya ia bisa tahu siapa yang menyelinap kekamarnya dan menciumnya tiba-tiba begini, meskipun kemungkinan orangnya sempit sekali. Aiden, atau…Marcus.

“Bukankah tak ada pembicaraan tentang pria itu selama aku bersamamu?”

Marcus. Jane susah payah membuka matanya, dengan samar mendapati wajah pria dihadapannya begitu pucat, dengan lingkar dibawah mata yang begitu besar namun mata itu masih menatapnya intens, depresi yang kentara. Kemudian ia merasakan ranjangnya bergerak, suara pria itu beringsut naik dan memeluknya erat dari belakang, menciumi tengkuknya.

Jane tahu, Marcus mabuk. Dan ia tahu, dirinya sendiri juga tidak memiliki kesadaran penuh.

Kendali tubuh minimum yang dimiliki keduanya membuat semua hal menjadi begitu samar. Gerakan Marcus yang cepat namun terkendali, tenaganya yang entah mengapa masih saja besar disaat ia sedang kehilangan kesadaran begitu–Jane tahu semuanya tanpa ia bisa menanggapi, apalagi menolak. Ia merasakan tubuhnya bergulir, lalu rasanya ada beban yang lumayan memberati tubuhnya.

Sementara itu, pikiran Marcus hanya dipenuhi oleh gadis itu. Pandangan yang kabur tak menghalangi gerakan apapun dari tangannya, secekatan mungkin membuat kontak yang tak terbatas. Marcus menciumi Jane tanpa ampun, membuat darahnya terasa bergolak untuk alasan tertentu. Satu yang disesalinya, gadis itu tidak menyambutnya sama sekali. Tapi ia tak akan berhenti, tentu saja. Semuanya baru akan dimulai.

***

Untuk yang kesekian kalinya, Jane bangun dengan kepala penuh dengan kunang-kunang. Kali ini rasanya lebih hebat, lebih gila. Kepalanya berdenyut-denyut namun lehernya terasa rileks, meskipun ada bagian dari dirinya yang terasa luar biasa sakit. Mengenyahkan perasaan itu, Jane mendudukkan dirinya, mengelilingkan matanya ke setiap sudut ruangan yang bisa ia lihat. Kamarnya. Seperti biasa, namun terlalu berantakan di bagian ranjang. Disampingnya kosong, hanya gaun tidurnya yang teronggok di tepi, dan kemeja putih pria yang juga bernasib sama. Kalau begitu bisa dipastikan, ia tidak mengenakan apapun saat ini.

Kepalanya berdenyut lebih hebat ketika ia meringsek untuk meraih kemeja tadi–yang karena letaknya lebih dekat dari pada gaun tidurnya. Telinganya juga berdengung, sedikit mendengar suara-suara yang tidak begitu jelas namun terasa dekat. Ia memakai kemaja kebesaran itu dengan cepat, lalu turun dari ranjang menahan dinginnya lantai dengan kaki telanjang menuju kamar mandi, tempat dimana suara yang samar-samar didengarnya tadi semakin jelas. Suara gemericik air keran, dan kecipak yang tidak pelan.

Tubuhnya nyaris saja terhuyung jika ia tidak meraih kenop pintu itu dengan cepat, membuka pintu itu dan menumpukan berat badannya kesana, menahannya untuk tidak terjatuh karena rasa sakit dan pusing yang berkolaborasi.

Efek samping obat penenang memang menyebalkan, batinnya.

Kecipak air yang didengarnya kini benar-benar jelas. Pantulan cermin wastafelnya memantulkan wajah Marcus dengan mata terpejam, menyeka wajahnya yang sudah basah, lalu menyipratkan air keran itu berkali-kali lagi. Jane tahu, syaraf pria itu sudah terkejut sempurna, kesadarannya juga sudah tak diragukan lagi. Bibirnya memutih kedinginan, ditambah pria itu hanya mengenakan celana panjangnya, karena kemejanya kini digunakan oleh Jane. Ia sudah mendapatkan kesadarannya sejak awal.

“Kau baik-baik saja?”

Marcus menoleh cepat sampai air di wajahnya menciprat kemana-mana, melihat Jane dengan wajah kuyu berusaha menormalkan cara jalan yang sudah terlanjur terlihat aneh dimatanya.

“Seharusnya aku yang bilang begitu.” ujarnya sambil mengulurkan tangan, menahan sebagian besar berat badan gadis itu. Tangan gadisnya begitu hangat di genggaman tangannya yang sudah nyaris membeku. “Kau baik-baik saja?”

“Harusnya begitu. Kalau kau tidak macam-macam tadi malam.”

Marcus mengambil segenggam air, lalu mengusapkannya ke wajah Jane. Ia tidak terkejut sama sekali, berhubung rasa sakit di tubuhnya jauh lebih menyita perhatian. “Sakit?” tanya Marcus dengan wajah cemas.

“Obat penenang menyelamatkanku, sepertinya.”

Alis Marcus bertaut sempurna. “Kapan kau meminumnya?”

“Aku sendiri tidak ingat. Mungkin setelah Aiden menelep–” Jane merasakan wajah Marcus menegang, lingkaran tangan dipinggangnya mengerat lebih kuat. “Ah, ya. Aku sedang bersamamu, Jo.”

Wajah Marcus masih terlihat begitu letih, bibirnya masih pucat dan deretan deskripsi lainnya yang memperlihatkan bahwa pria itu tidak baik-baik saja. Jane menelusurkan tangannya melewati wajah Marcus, terasa dingin dan basah. Pria ini menyiksa dirinya sendiri.

“Kau yang tidak baik-baik saja.”

“Aku hanya tak mau muntah didepanmu.”

Teringat dengan kondisi Marcus yang bersimbah alkohol tadi malam, Jane tahu bahwa pria itu lebih buruk dari tidak baik-baik saja. Kalangan sepertinya tentu saja sering mengalami hal itu, minum begitu banyak dan merasa sekarat pagi harinya. Mual, pusing, kedinginan. Itulah yang kurang lebih Marcus coba sembunyikan saat ini.

Jane menyurukkan wajahnya di bahu Marcus, merasakan bahwa setidaknya tubuh pria itu masih hangat, tidak sedingin wajah dan tangannya.

“Kupikir kau sudah melakukannya dengan Kennard.” ucap Marcus ditengah badan yang menggigil kecil menahan dingin. Jane menarik tubuhnya, melihat banyak kelegaan tersirat di wajah tersiksa Marcus ketika mengatakan hal itu. Yah, ia memang belum pernah melakukan hal seintim ini dengan siapapun. Jane tahu Marcus pasti sudah menyangka hubungannya seintim itu dengan Aiden. Pria ini akan selalu berprasangka buruk jika sudah menyangkut rivalnya.

“Kau saja yang kurang ajar.” cibir Jane sambil cemberut, membuat Marcus menggigit dagu gadis itu gemas. “Hei, supervisor marketingku ternyata benar-benar seksi.”

“Sialan. Mati sana kau.” sergah Jane seraya mendorong pria itu menjauh, enyah dari kamar mandinya.

***

“Kau memang kakak yang brengsek.”

“Adikku yang keparat.”

Marcus tersenyum, merasa jauh lebih baik saat ini. Kepalanya masih sedikit sakit, tapi rasanya melihat gadis itu mengumpat dan kembali seperti biasa membuatnya melupakan morning sick. Ditambah dengan kenyataan bahwa Jane, bercinta lebih dulu dengannya daripada dengan Aiden.

Jane memutuskan untuk menyerahkankan urusan Nate pada bibinya. Lagipula, kabarnya ayah mereka akan pulang siang ini, dan Jane akan membiarkan pria tua itu pusing sendiri mengurusi Nate. Ia terlalu malas untuk ikut campur, meskipun Nate tetap berada dibawah pengawasannya.

“Kemarin kau terihat seperti kakak yang baik.” ujar Marcus sambil meminum teh di cangkirnya. Sarapan pagi hari ini adalah yang paling sempurna selama hidupnya. “Berarti kemarin hampir saja kiamat.”

Dengan mulut setengah terisi, Jane menatap Marcus lekat-lekat. “Aku takut, sebenarnya.”

Jane menegakkan bahunya, menarik napas dengan gerakan yang kentara. “Anak itu–“

“Kau kakaknya. Wajar saja. Jangan merasa bodoh hanya karena hal itu, Jane.” ucap Marcus sambil mengangkan cangkir kopinya. “Tak ada yang salah dengan kekhawatiran kakak pada adiknya.”

Sambil menatap Marcus yang menyeruput isi cangkir, Jane memainkan garpunya tak berselera. Ia harus mengakuinya, memang. Nate membuatku khawatir.

“Ia akan baik-baik saja. Percaya padaku.”

“Kenapa aku harus memercayaimu?” tanya Jane defensif. Gadis itu menyerengit ketika Marcus malah menyeringai, melipat tangannya diatas meja dan mencondongkan tubuhnya. “Hei, kau lupa? Kau sudah memercayakan semuanya padaku tadi malam.”

To Be Continued..

About these ads

83 thoughts on “Love Isn’t That Easy [Chapter 3]

  1. Aku seneng part Candice and Vincent :)
    bener kata Jane, mereka sperti remaja yg baru jatuh cintta..#ya semacam virus merah jambu :)

    anw, siapa Ashley? Sosok yang dikenal Spencer? Atau lebih, mungkin? #penasaran..

    Congrats buat Mark, you’re the first.. Aiden yang malang.. Jane yg brengsek..

    Bagiin posternya juga mbak.. Love Isn’t that Easy..
    Supaya kelihatan kyk novel sungguhan :D

    Nextnya ditgu mbak kafka :)
    semangat!!!!

  2. Naomi_Kyu says:

    q kasih 100 jempol buat kakak deh
    crita nya keren banget
    part selanjutnya kapan kak??
    jangan lama2 ya, hehehehe :)

    Fighting!!!

  3. imaaa says:

    haaai aku reader baru yang kesasar ke blog ini waaah baru baca 3part ini aku langsung ketagihan ni :D

    salam kenal ya chiguuuuu
    ima imnida^^
    di tunggu lho kelanjutannya

  4. naraya says:

    Ah !! Sumpah karakter marcus disini tuh … Konfliknya …gak sabar nunggu si aiden tau ,hhaha yah pokoknya jane sama marcus tetep (y)

  5. Sapphira says:

    Anyeong, reader baru, ga sngaja nemu blog ini dan.. OMG OMG OMG ada ff yg super duper keren kaya gini huwaaaa ><… Gaya bahasanya yg kaya novel trjemahan dn cast nya yg keren-keren. Salut dh buat authornya. Oke, next chap amat sangat ditunggu ya thor :))… *reader baru bnyk omong*

  6. lama lama kasian juga sama kyuhyun. merana banget tuh cowok cakep.
    hahaha.
    bener-bener kehidupan bebas nya amerika. dan aku suka buanget sama ff ini!!
    walopun kayaknya jane sebel sama nate, tetep aja nate itu adik kandungnya. ga heran kalo jane khawatirnya kayak gitu.
    emang tiap tanggal 25 si spencer dateng ke situ ya? buat ngeliat cewek yang metik gitar?
    ah, 5 jempol buat kalimat terakhirnya marcus..
    aku tunggu lanjutannya onn.. semangat!!!

  7. hueee
    Jane sudah melakukannya
    klo gitu sma marcus aja sana
    Kasian aidenku yg malang
    Haha
    Agak ngeri baca kata” Marcus tidak pernah bermain kotor untuk urusan apapun.kecuali untuk urusan merebut pacar sahabatnya sendiri

    Yey dtunggu kafka lanjutannyaa

  8. cheonchan says:

    “Hei, kau lupa? Kau sudah memercayakan semuanya padaku tadi malam.”
    jleb!
    HIYAAAAA entah gara” apa, kalimat ini malah bikin kyu 1000x lebih ganteng! wkwkw

  9. Pengen lihat fotonya Jane dan Candice nih eonn :)
    Hoaah, Kyu bener-bener asdfghjkl deh, Aiden aja belum pernah eeee malah dia yang dapet pertama -____-
    Suka sama kisah asmara Candice-Vincent di sin :3 sukak banget!
    Ashley? Adik apa pacar Spencer ya? /sotoy banget ini/

  10. MiyaELF says:

    ( ^_^)/ やぁ kafka eonni…..
    aku baru baca FF eonni yang ini…..
    bagus banget!!!!!!
    seperti aku mnonton film*?
    yah, begitulah yang aku rasakan.
    aku akan tunggu next partnya

  11. authornya manaahh!!! ayo dong dilanjut T.T
    ini dipost tanggal 15 juli, sekarang udah tanggal 26 agustus, lama bangeeeeetttt T____T
    aku selalu geregetan deh baca FF kamu, soalnya pada digantungin gitu aja T.T
    yg eligible aja blom dilanjutkan ?
    ayo dong please yang ini dilanjut hueeeeee

    • sabar sayangku. nulis itu ga gampang. bukan cuma masalah inspirasi, masalahnya aku juga lagi engga di posisi yang menguntungkan secara geografis sekarang. cari waktu dan sekolah disini agak ribet, menurut aku. jadi maaf ya. kalo udah beres aku pasti publish ko.

  12. Kyaaa~ Jane-Marcus… (>///<)
    Kenapa disini aku ngerasa Marcus brengsek ya? Dan lagi kasihan Aiden, sumpah ih malang nian nasibmu nak #pukpuk
    Aiden sama aku aja yuk? *wink*
    Penasaran hubungan Spencer sama wanita yang ada di ruangan rehabilitasi. Apa dia someone special untuk Spencer?
    penasaran~~

  13. what? oh noo jo tak kusangka kau senekat itu hello jane itu masih berstatus kekasih org lo yg jelas2 sobatmu sndiri ckckck tp emang bukan marcus namany kalo peduli kata orang hahahaha …
    amazing! like it so much tinggal tunggu waktu ampe jennifer falkner benar2 mjd milik marcus jo scara mutlak!

  14. iamdindy says:

    aku suka vincent – candice momentnya.aiden sungguh malang dirimu.congrats for marcus jo.you’re the first.ngga tau kenapa aku ngerasa sepertinya jane lebih memilih marcus daripada aiden.pas jane meluk marcus di kamar mandi feelnya dapet banget.aku sukaaaa ><

  15. aiden yang malang ckckck~ kenapa ya mesti Aiden yang dapet ” naasnya ” ( red : diselingkuhin ) apa karena faktor muka kali ya? sekali kali aku mikir gimana kalo marcus yang diselingkuhin, Aiden yang jadi pacar gelapnya wkwk dilihat dari mana-mana tetep aja enak buat Jane -__-

    Ehem, aku mesti tersipu kalo lagi baca bagiannya Vince-Candice, maniiiiissss banget :D entah kenapa kalo baca nama Candice yang tak bayangin itu Charice *jauuuuh* :Dv

    Dan Kafka, aku cegek sekali pas tahu kenangannya Spencer di pusat rehabilitasi itu Ashley, sumpah deh pertamanya aku mikir Spencer pernah masuk ke situ *pikirannya jauh* wohooo new character~ Ashley, Who is she ? :0

  16. hyuktaa says:

    Hohohoho si Marcus berani banget dia haha jadi kasian sama aiden. Beneran bakal dibunuh si aiden? Aduh jangan deh kasian. Dan akhirnya si Spencer ikut ambil bagian cerita hoho kirain dia cuma pemeran pembatu ._.

  17. CKHPCY says:

    kenyataan paling menyenangkam di part ini adalah Marcus bisa ‘mendapatkan’ Jane sebelum Aiden hahaha itu bener-bener cool! kkk

  18. Atthena Dee says:

    Kyaaa. . . SUKA BGT PART INI.
    Akhirnya kyuhyun ma Jane “d0ing this and that” juga.
    Hal yg paling gue nantikan selama ini. Hahah. . #digaplokAiden

    As always e0n,TE O PE BE GE TE !!

  19. Miss Gyuhyun says:

    OH ASTAGA!!!!! Marcus brengsek, pasti bangga banget tuh jadi yang pertama -_- sebenernya kasian sama Aiden, setiap kali ngungkapin cinta ke Jane tapi eh Jane-nya ke Marcus. Tapi ga tega juga ngeliat muka merananya si Marcus /cium Kyuhyun/
    Si ashley itu pasti cewek yang disukai sama Spencer kan? Sotoy hahaha. Makin seru kak seriusaaan. Penasaran gimana endingnya, si Jane milih Aiden atau Marcus.!!!!!!!!! Errrrrrr berharap sama Marcus dong *o*)

  20. Dramatis banget eon.. Gk nyangka marcuss bakal ngelakuin ‘itu’ sm jane… Gk kebayang nasib hubungannya jane n aiden.. Udh pasti marcus gk bakal ngelepasin jane kalau udh begini.. Aku suka sikap protecktif’a marcus sm jane.. Seolah jane itu hanya satu”a perempuan yg bisa dia lihat #emang iya.. Bahkan rela mempertaruhkan persahabatannya..

  21. ny lee says:

    marcus kau mengambil kperawanan kakaku..
    kalo aku telaah nih dari brbgai ff yg sudah aku baca cerita eonni ini tuh ga kaya ff indo kbnyakan cerita ini unik dan rasanya bisa dsmakan dgn novel klas atas dri luar.. kkk DAEBAK pokoknya..

  22. areny says:

    woooaahh…
    DAEBAK Story…..
    ska bnget sm part candice sm vincent dsini….
    cwe yg d RS tuch pcar spencer kah ???
    knp tuch cwe ??? gila ??? pemakai juga ???
    gregetan sndiri leat jane,knp nggk dputusin aj aidennya cba…
    kn mark ksian tuch,hrus ngmpet”
    wkwkwkwk

  23. raraa says:

    marcus bener2 daebaaaaak
    Dia sudag melakukannya sama jane .
    Padahal pacarnya sendiri aja yng aiden belum pernah ngelakuin
    Bener2 daebaaaaaak

  24. addie alexandria says:

    pasti rencananya marcus pas mabuk ini ,, ish kenapa sih si marcus !! jane juga terlalu ngasih respon sama marcus ,, sakit tau diselingkuhin !! apalagi sama temen sendiri ,, ya ampun jane jane emangnya segitu gapunya hati nya apa ???
    sampe sampe engga mempermasalahkan apa yg dilakuin marcus tadi malem ke dia pas bangun ,, malah santai aja udah kaya terbiasa gittuuu !!
    sebel tau ,, eeehh penasaran tuh siapa cewe yg dijenguk si spencer ditempat rehabilitasi nath , pacarnya kaah ?? atau kenalannya ??
    apa spencer pernah masuk rehabilitasi juga ??

  25. naki says:

    kyaaa…..g nygka bkal jd gni,trnyta spencer bkn jd pnghlang,bngung jg mw gmn,marcus emng jhat dan brkhiant,tp knp q ttp sk y eon??,hehe jd mkin seru :D

  26. Ingga says:

    Wooooowww kyu bnr2 deh. Brani2ny nidurin jane wkt dy g bgtu sadar.. Dh gt jane jg sprtiny sm skli g mnyesal.. Hmmmm..

  27. ikaminho says:

    hallo… Q reader baru nih. Salam kenal :D
    Q dah baca sampek part 3 tapi baru bisa komen. Hehehehe
    Oh iya di part ini q ngerasa kyuhyun jahat banget ya. Kasian donghaenya.

  28. Jane: “Di luar kesadaranku, Mark.”
    makin penasaran banget! Bener2 serasa baca novel terjemahan deh. Kafka you are so awesome!

    Akhirnya Candice melunak juga yaa.. Seneng banget liatnya ><
    lalu Spenc, ternyata mantan pecandu juga.. Pantes rada2 …
    My poor Aiden, kamu sama aku aja sini :p

  29. “Selisih tubuh yg mencapai sepuluh senti lebih dr 1 menit” nah loh gw tiba” mikir kalimat ini itu lebih 1 menit itu berapa?? Tapi ga tw kenapa yah gw kok suka sama jane. ;( tapi pas di part” terakhir kok aku seneng yaa,,, soalnya tahu kenyataan.a jane baru melakukan.a dengan marcus. :D selalu terpesona deh pokoknya.

  30. aina564 says:

    jarang loh ketemu ff yg penggambaran sungmin nya sekeren ini, hhuuu terharu bgt, yah cukup melegakan krna ceritanya tdk berorientasi pd markus jane n aiden, huuaaa pokoknya keren deh :D
    hhee
    lanjut part berikutnya^^

  31. Imz says:

    Woaaaaaaa. Tarik nafas dalam-dalam karena dari tadi serasa tahan nafas dan sesak. Oh onnie, daebak banget, keren, ahhhh pokoknya super duper kereeeen. Diksinya, untaian katanya aaaaaaaaa keren banget. Onnie wajib kudu harus bikin novellll. Hohoho

  32. sylvi says:

    aaaaaa kaget juga si nate kok jadi pwcandu huhuhuhu.dan huhu si jane ini kok jaim bgt ama adeknya.ngik=_=ohya.kaget juga di part ini kyu ama jane ngelakuin/? penasaran apa rencana kyu buat jane selanjutnya. ohya kak itu yg orang dikenal spencer yg setiap tgl 25 bikin penasaran asli.aa daebak konfliknya!(y)

  33. hampir aja kena gagal jantung gara-gara baca part 3 ini, kalo-kalo aku sampe kena serangan jantung, kafka, kamu yang pertama aku gentayangin :P
    daebak banget, sukses bikin banyak banget kejutan di tiap part

  34. vie says:

    Astaga mereka sudah meLakukannya :o
    Ak suka dg penjabaran keadaannya, ga terLaLu gambLang tapi cukup untuk menjeLaskan apa yg terjadi ..
    Good story :)

  35. Awww.. Awww *gigit jari.
    Jo, aah eonn patah hatii.. Ah gila” itu nusuknya terlalu dalam penghiatan, perselingkuhan yang kurang ajar. Sahabat macam apa? Lagi” cinta Jane please sadar lah. :D

    eon dari 4 cowo itu ala kek BBF yah suka sama Jo-Kyu tapi suka sama peran spencer yg lebih cool tidak ambil pusing konflik tapi kisah cinta.a lebih miris. Aigooo wajah tenang dan biasa.a menutupi gelap.a percintaan dia…
    :D

    ff.a full konflik yg bikin nguras emosi Jane bener” bikin aku yg ngerasa cwe jadi bingung sendiri.
    Oy! Jane sadarlah *tarikJo

  36. nury choi says:

    Omg omg omg. ….selalu dech kl marcus maen pasti egoiis ekeeke. Aaduuuhhh ikkanku kasiaan sumpeeh udah ddikhiianatii tteerlalu jjauhh wkwkkwk cup cup aiiiden :*

  37. What the..oh no marcus kau berbuat apa tadi malam dengan jane. Oh tidak jane cepat kau putuskan hubunganmu dengan aiden. Dan spencer siapa gadis di rehabilitas itu? Seseorang yang begitu penting kah untukmu? Apa arti dari tanggal 25 itu spencer?

  38. HalcaliGaemKyu says:

    Ya ampun marcus! Kau akhirnya tdk bs bertahan jg.
    Pdhl jane sedang terbius obat tidur tp marcus tetap melakukannya. Fiuuh.
    Itu krn marcus sdng mabuk dan dilanda cemburu sm aiden. Dia jg mengira klo aiden dan jane jg sdh melakukannya lbh dulu.
    Ternyata spencer bs menjaga rahasia jg walau msh dgn sindiran diam2 nya tp dia bs menjaga marcus dr emosinya yg sdng meluap-luap.
    Gk nyangka jg dgn nate yg sempet dibayangkan menjadi seorang homo eh ternyata dia malah pencandu narkotika.
    FF nya keren!
    Penasaran dgn hub marcus dan jane. Penasaran jg dgn hub spencer dan ashley. Juga aiden yg diduakan. Ah..jg candice dan vincent yg sebentar lg menghadap ayah candice #cieee…ciee…..
    Daeeeebak!
    Gumawo

  39. Luluvita says:

    weeeew marcus, you’re the first♡
    penasaran endingnya jane sm siapa? dan gimana reaksi aiden tau diselingkuhin.

  40. marcus am jane udda ngelakuin itu dan jane sadar loh apa yg marcus lakuin am dya , tp gg ngehindar apalgy menolak , tuh kan jane tinggal mutusin aiden aja , hehehe ^^v
    vincent am candice bener” pasngan aneh .. hahaha
    tp yg paling normal ya spencer , hohoho

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s